'Baca Kembali Jejak Sains Nusantara Penting untuk Bangun Budaya Sains dan Kepercayaan Diri Bangsa'

6 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN -- Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai ruang lahir dan berkembangnya pengetahuan yang turut membentuk perkembangan sains dunia. Kekayaan hayati, pengalaman masyarakat lokal, hingga keterlibatan orang Indonesia dalam berbagai penelitian sejak masa lalu menunjukkan bahwa Indonesia tidak semata menjadi objek penelitian, tetapi juga bagian penting dari produksi pengetahuan global.

Namun, banyak jejak pengetahuan tersebut belum terdokumentasi, terpelihara, dan didiseminasikan secara memadai. Oleh karena itu, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membaca kembali, menguji, merawat, dan mengembangkan pengetahuan yang telah lama tumbuh di masyarakat.

Melalui Gelar Wicara bertajuk 'Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia' yang diselenggarakan Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Komisi X DPR RI di Museum Multatuli, Lebak, Banten, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa sains bukan sesuatu yang asing bagi Indonesia.

"Tradisi pengetahuan telah berkembang dalam masyarakat Nusantara melalui pengalaman empiris di bidang pelayaran, pertanian, pengobatan, astronomi, teknologi maritim, hingga pengelolaan lingkungan. Sains merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara yang perlu terus dikembangkan untuk menjawab tantangan masa depan," ujar Najib, Jumat (7/8/2026).

Najib menambahkan, membaca kembali sejarah tersebut penting untuk membangun budaya sains dan kepercayaan diri bangsa. Pengetahuan yang telah tumbuh perlu terus dirawat dan dikaji kembali, sekaligus dipertemukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

“Sains tidak boleh hanya tumbuh di ruang laboratorium atau kampus, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi dasar pengambilan keputusan, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menekankan pentingnya melihat sejarah sains secara lebih terbuka terhadap keberagaman sumber pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan sains modern, tetapi perlu diangkat, dikaji secara kritis, dan dielaborasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Bonnie kemudian mengangkat gagasan pluriversalitas pengetahuan, yakni pengakuan bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari beragam pengalaman, kebudayaan, dan konteks masyarakat. Pendekatan ini tidak berarti menolak rasionalitas ilmiah, tetapi menghindarkan sains dari cara pandang tunggal yang justru dapat mengabaikan pengetahuan yang telah lama hidup di masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber yang penting untuk diteliti lebih lanjut. Sains dapat berperan untuk menguji, memvalidasi, menjelaskan, dan mengembangkan pengetahuan lokal sehingga dapat dipahami secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Yudi Darma menjelaskan bahwa tantangan penguatan budaya sains tidak hanya berkaitan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains, tetapi juga dengan keterlibatan publik dalam aktivitas dan percakapan ilmiah.

Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025 yang dilakukan bersama LSI terhadap 1.203 responden menunjukkan sebanyak 87,9 persen masyarakat percaya terhadap sains dan 81,1 persen percaya terhadap ilmuwan serta peneliti. Namun angka tersebut belum dibarengi dengan partisipasi masyarakat terhadap sains dan teknologi.

"Sebanyak 88,2 persen masyarakat tidak terlibat dalam aktivitas saintek, 74,1 persen masyarakat mengaku tidak pernah berdiskusi tentang saintek, dan 87,3 persen jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca jurnal atau buku ilmiah dalam satu tahun terakhir," tutur Yudi.

Kondisi tersebut, ucap Yudi menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap sains telah tumbuh, tetapi masih diperlukan lebih banyak ruang agar masyarakat dapat berdiskusi, berinteraksi dengan proses ilmiah, dan memahami bagaimana sebuah pengetahuan dibentuk serta diuji.

Karena itu, diseminasi sains perlu bergerak melampaui penyampaian hasil penelitian. Ruang publik, museum, sejarah, hingga pengalaman masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk mendekatkan cara berpikir ilmiah kepada masyarakat.

Pada sesi diskusi, sejumlah panelis kemudian menunjukkan bagaimana Indonesia sejak lama menjadi bagian dari perkembangan sains. Dosen SGPP Indonesia, Luthfi Adam mencontohkan Kebun Raya Bogor pada abad ke-19 yang menjadi salah satu pusat penting riset botani tropis dunia. Di balik aktivitas tersebut, terdapat kontribusi besar staf dan tenaga lokal dalam pengumpulan spesimen serta produksi pengetahuan yang tidak selalu tercatat secara setara dalam sejarah.

Sementara itu, Budi Gustaman, dosen Sejarah Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah juga dapat ditemukan dalam pengalaman masyarakat membaca musim, perilaku satwa, hingga mengelola lingkungan. Pengamatan yang diwariskan lintas generasi tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan untuk kembali dikaji melalui pendekatan ilmiah.

Adapun Kolumnis Historia ID, Rahadian Rundjan mengingatkan bahwa perairan Nusantara sejak abad ke-18 dan ke-19 telah menjadi ruang penting berbagai ekspedisi ilmiah dunia. Jejak tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sejak lama bukan sekadar lokasi penelitian, tetapi juga bagian dari perjalanan produksi pengetahuan global.

Melalui gelar wicara ini, Kemendiktisaintek mendorong agar sejarah sains tidak berhenti sebagai arsip masa lalu. Pengetahuan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia perlu ditemukan kembali, dirawat, didokumentasikan, dikaji, dan didiseminasikan, sehingga dapat menjadi fondasi bagi budaya sains sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. (*

Read Entire Article
Politics | | | |