REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 Rahendro Heru Bowo dikabarkan akan pulang dari Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta Timur setelah kondisinya berangsur normal. Heru sebelumnya sempat menjalani observasi intensif usai dipulangkan ke Indonesia.
Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy mengatakan, Heru dijadwalkan pulang pada Selasa (26/5/2026) malam. “Heru mau pulang malam ini,” kata Harfin kepada Republika.
Saat ditanya perkembangan kondisi Heru, Harfin menyebut kondisi relawan tersebut sudah membaik. Meski demikian, ia mengatakan penjelasan rinci mengenai kondisi kesehatan Heru sepenuhnya menjadi kewenangan tim medis yang menangani. Termasuk soal kabar Heru sempat menderita kencing berdarah.
Heru menjalani observasi intensif di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta Timur sejak Senin (25/5/2026). Pihak keluarga menyebut Heru mengalami sejumlah keluhan kesehatan sehingga harus segera mendapatkan penanganan medis usai tiba di Tanah Air.
Kakak Heru, Saldy Sasmita, mengatakan adiknya dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) setelah tiba di Jakarta. Tim dokter melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui kondisi pasti Heru.
Saldy menjelaskan, Heru juga telah menjalani pengambilan sampel darah di IGD untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, keluarga belum mengetahui hasil lengkap pemeriksaan medis tersebut.
“Di IGD langsung diambil darah. Memang banyak keluhannya,” ujar Saldy.
Terkait biaya pengobatan dan penanganan teknis lainnya, Saldy mengaku tidak mengetahui secara detail. Menurutnya, hal tersebut lebih banyak ditangani pihak GPCI yang mendampingi kepulangan Heru ke Indonesia.
Heru mengaku mengalami sejumlah kekerasan di beberapa bagian tubuh selama ditahan di atas kapal tentara penjajah Israel selama dua hari tiga malam. Menurut Heru, ia dan relawan lain mendapat tekanan fisik maupun psikologis
Ia menuturkan, para relawan kerap dilempari granat kejut ketika petugas melakukan proses pemindahan tahanan dari satu tempat ke tempat lain. Heru menyebut suara granat kejut tersebut sangat keras dan menimbulkan tekanan mental.
Selain itu, Heru mengaku para tahanan dipaksa terus menundukkan kepala selama proses pemindahan. Menurut dia, tahanan yang mencoba mengangkat kepala akan mendapat kekerasan fisik.
“Kita harus nunduk. Enggak boleh angkat kepala sedikit pun. Kita angkat kepala kita ditendang, dipukul,” katanya.
Heru juga mengaku melihat adanya bilik khusus yang disebutnya sebagai tempat eksekusi atau ruang hukuman. Ia mengaku sempat jatuh dan diinjak tentara Israel serta disetrum di beberapa bagian tubuh.

4 hours ago
11

















































