Seorang pengunjuk rasa memegang poster Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Warga Iran tidak perlu takut dengan retorika Donald Trump!" tegas Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam pernyataan terbarunya yang mengguncang dunia. Ia memberikan peringatan keras bahwa jika Amerika Serikat berani menekan tombol perang, maka Washington tidak hanya akan menghadapi Iran, melainkan sebuah "Perang Regional" total yang akan melalap seluruh kawasan.
Ketegangan mencapai titik didih setelah Donald Trump mengirimkan gugus tempur kapal induk ke Teluk sebagai ancaman langsung terhadap Teheran. Khamenei membalas dengan nada provokatif, menyebut bahwa pengerahan militer AS hanyalah "operasi psikologis" dan menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan ribuan lubang kubur di Teheran bagi tentara Amerika jika invasi benar-benar dilakukan.
Di tengah atmosfer yang kian mencekam, Parlemen Iran meledak dalam kemarahan dengan seragam hijau Garda Revolusi (IRGC). Sambil meneriakkan "Matilah Amerika" dan "Matilah Israel," mereka resmi menetapkan seluruh tentara Uni Eropa sebagai kelompok teroris. Dunia kini menahan napas: apakah ini akhir dari diplomasi atau awal dari kiamat di Asia Barat?
Khamenei menyamakan protes anti-pemerintah yang melanda negaranya belakangan ini sebagai sebuah upaya "kudeta" yang didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, para demonstran telah menyerang simbol-simbol suci dan otoritas negara, mulai dari masjid hingga pusat komando IRGC. Teheran mengklaim telah mengakui lebih dari 3.000 kematian, namun bersikeras bahwa mayoritas korban adalah petugas keamanan dan warga sipil yang terjebak dalam aksi "teroris" para perusuh.
Langkah keras Iran dalam meredam protes tersebut memicu reaksi berantai dari Barat. Uni Eropa, mengikuti jejak AS, Kanada, dan Australia, secara resmi memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris. Namun, gertakan ini justru dibalas dengan aksi solidaritas nasional di Teheran. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa keputusan Eropa hanya akan mempercepat "ketidakrelevanan mereka dalam tatanan dunia masa depan."
Di tingkat akar rumput, ketegangan ini menciptakan kecemasan yang mendalam. Warga sipil seperti Firouzeh (43) mengaku hidup dalam ketakutan, terus-menerus memantau berita hingga dini hari karena khawatir perang pecah saat mereka terlelap. Media lokal Iran pun turut memanaskan suasana; harian ultra-konservatif Kayhan merilis judul utama yang mengerikan: "Asia Barat adalah rumah bagi Iran, namun akan menjadi kuburan bagi Amerika."
Meski genderang perang ditabuh dengan kencang, celah negosiasi ternyata belum sepenuhnya tertutup. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengungkapkan bahwa di balik gemuruh media, pengaturan struktural untuk negosiasi sebenarnya sedang berjalan. Donald Trump sendiri mengonfirmasi adanya dialog tersebut, menyatakan harapannya agar Iran memilih kesepakatan nuklir baru daripada harus menghadapi aksi militer yang menghancurkan.

2 days ago
7















































