REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melaksanakan Kereta Luar Biasa (KLB) Inspeksi Lintas Jalur Selatan pada 10–12 Februari 2026 sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapan operasional dalam menghadapi Angkutan Lebaran 2026. Direktur Operasi KAI Awan Hermawan Purwadinata mengatakan, kegiatan ini mencakup peninjauan langsung kesiapan prasarana, sarana, sistem operasi, keselamatan, serta kesiapan sumber daya manusia di lintas selatan Pulau Jawa.
"Melalui KLB Inspeksi Lintas Jalur Selatan, KAI memastikan seluruh unsur pelayanan dan keselamatan berada pada kondisi siap sebelum memasuki masa Angkutan Lebaran," ujar Awan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Awan menyampaikan KLB Inspeksi menjadi instrumen penting untuk memastikan kesiapan operasional dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasi. Ia menyebut langkah ini menjadi bagian dari komitmen KAI menjaga keandalan perjalanan serta kenyamanan pelanggan di tengah peningkatan mobilitas.
Awan menjelaskan, KLB Inspeksi Lintas Jalur Selatan menggunakan rangkaian 1 lokomotif, 1 Kereta Nusantara, 1 Kereta Jawa, 1 kereta makan, dan 1 kereta pembangkit, dengan rute pada hari pertama dari Bandung–Purwokerto. Secara keseluruhan, rute kegiatan inspeksi melintasi wilayah kerja Daop 2 Bandung, Daop 5 Purwokerto, Daop 6 Yogyakarta, Daop 7 Madiun, dan Daop 8 Surabaya yang merupakan lintasan strategis dengan karakteristik geografis dan tantangan operasional yang beragam.
"Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada pembinaan jajaran pegawai di Stasiun Bandung dan Stasiun Purwokerto," lanjut dia.
Sepanjang perjalanan, ucap Awan, jajaran pimpinan dan pemangku kepentingan meninjau langsung kondisi lintasan, emplasemen stasiun, serta kesiapan personel operasional di lapangan. Awan menilai kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk menyelaraskan standar layanan, kesiapsiagaan petugas operasional, serta frontliner agar seluruh unsur bekerja dengan tingkat kesiapan yang sama saat Angkutan Lebaran berlangsung.
Dalam rangkaian KLB Inspeksi, lanjut Awan, masing-masing Daerah Operasi memaparkan kesiapan menghadapi Angkutan Lebaran 2026, mencakup rencana operasi, langkah antisipasi potensi gangguan perjalanan, serta skema penanganan kondisi darurat. Mengingat lintas selatan melintasi wilayah pegunungan, jalur rawan cuaca, hingga segmen dengan peningkatan frekuensi perjalanan yang signifikan saat Lebaran, sambung Awan, pengecekan dilakukan secara komprehensif untuk menjaga keandalan prasarana dan kelancaran perjalanan.
"Sebagai bagian dari kesiapan lintas selatan, KAI juga menyiapkan pengamanan terpadu di wilayah Daop 2, Daop 5, Daop 6, Daop 7, dan Daop 8 dengan dukungan ribuan personel pengamanan internal dan eksternal," sambungnya.
Awan mengatakan, pengamanan ini diperkuat melalui sinergi dengan TNI, Polri, serta aparat terkait untuk menjaga keamanan perjalanan kereta api dan lingkungan stasiun selama masa Angkutan Lebaran. Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana penanganan gangguan operasional turut diperkuat melalui penempatan lokomotif cadangan, pembangkit listrik, crane, serta ketersediaan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di titik-titik strategis lintas selatan.
"Langkah ini dirancang untuk memastikan respons cepat dan terukur apabila terjadi gangguan operasional selama periode angkutan," ungkap Awan.
Ia menambahkan Angkutan Lebaran 2026 akan berlangsung selama 22 hari, mulai 11 Maret hingga 1 April 2026, dengan Posko Angkutan Lebaran beroperasi pada 14–29 Maret 2026. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan cuti bersama Nyepi, sementara puncak arus balik diproyeksikan pada 24 Maret 2026 saat cuti bersama Idulfitri berakhir.
"Pola ini menjadi acuan KAI dalam pengaturan operasi, kesiapan sarana, sumber daya manusia, serta pengamanan perjalanan," kata Awan.

2 hours ago
3















































