Jamkrindo Bangun Kemandirian Ekonomi Penyandang Disabilitas

47 minutes ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG – Akses terhadap keterampilan dan pasar menjadi salah satu faktor yang dapat memperluas peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan keterampilan yang dilanjutkan dengan pengembangan produk dan pengenalan karya kepada pasar.

Salah satu kegiatan pemberdayaan tersebut berlangsung melalui program Harmoni Karya Inklusif di Taman Cimanuk Adiarsa, Kabupaten Karawang, pada 21–23 Agustus 2026. Program yang digelar PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo tersebut mencakup pelatihan membatik, menjahit, serta pameran dan lomba hasil karya penyandang disabilitas.

Pelatihan membatik diikuti 20 peserta penyandang disabilitas dengan materi pengembangan motif khas Karawang. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan business matching antara peserta pelatihan membatik dan menjahit untuk mengembangkan kain yang dihasilkan menjadi produk siap pakai.

Sekretaris Perusahaan Jamkrindo Akhmad Albaasithu mengatakan, pemberdayaan penyandang disabilitas perlu dilihat dari akses terhadap kesempatan untuk berkembang, berkarya, dan memperoleh peluang ekonomi.

“Kami ingin memastikan setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang dan memberikan nilai. Melalui Harmoni Karya Inklusif, kami ingin mendorong penyandang disabilitas agar semakin percaya diri dalam mengembangkan potensi, sekaligus membuka peluang agar karya mereka dapat memiliki nilai ekonomi,” ujar Akhmad dalam siaran pers, Ahad (6/9/2026).

Melalui business matching, kain hasil pelatihan membatik dan menjahit dapat dikembangkan menjadi pakaian, tas, aksesori, dan produk kreatif lainnya. Skema tersebut mempertemukan keterampilan peserta dengan proses pengembangan produk sehingga membuka kemungkinan terbentuknya rantai nilai usaha yang melibatkan penyandang disabilitas.

“Kami ingin membangun ekosistem yang memungkinkan keterampilan berkembang menjadi kegiatan produktif. Karena itu, kami mempertemukan peserta pelatihan membatik dan menjahit melalui business matching agar kain yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi produk siap pakai,” lanjut Akhmad.

Menurut Akhmad, keberlanjutan pemberdayaan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan setelah pelatihan selesai. Pengembangan produk dan pengenalan karya kepada pasar dinilai dapat memberikan ruang bagi peserta untuk melanjutkan keterampilan yang diperoleh menjadi aktivitas produktif.

“Kami ingin agar program pemberdayaan tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Ada proses lanjutan berupa kolaborasi, pengembangan produk, dan pengenalan karya kepada pasar,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan juga diisi pameran dan lomba karya penyandang disabilitas yang meliputi fashion show, display hasil karya, penjurian, penampilan seni, serta pemberian penghargaan kepada peserta. Pameran tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil karya kepada masyarakat, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan calon mitra pemasaran.

“Melalui pameran dan apresiasi ini, kami berharap semakin banyak pihak melihat bahwa karya penyandang disabilitas memiliki kualitas dan potensi untuk dikembangkan. Inklusivitas akan menjadi semakin bermakna ketika masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dapat bersama-sama membuka akses dan menciptakan kesempatan,” kata Akhmad.

Pengembangan keterampilan hingga akses pasar menjadi tantangan penting dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. Model yang menghubungkan pelatihan, pengembangan produk, dan pemasaran dapat memperluas peluang agar keterampilan yang dimiliki tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Read Entire Article
Politics | | | |