REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Israel mengumumkan penghentian seluruh operasi bantuan kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) di Gaza, menyusul kegagalan organisasi tersebut memberikan daftar lengkap staf lokalnya. Kementerian Luar Negeri dan Pemberantasan Semitisme Israel menyatakan bahwa "langkah-langkah sedang diambil untuk mengakhiri kegiatan Dokter Tanpa Batas di Jalur Gaza," dengan tenggat waktu keberangkatan pada 28 Februari.
Keputusan ini didasarkan pada persyaratan baru Israel yang mewajibkan semua organisasi kemanusiaan berbagi informasi detail personel lokal. Israel menyatakan bahwa pendaftaran data ini penting untuk mencegah bantuan dialihkan ke kelompok bersenjata Palestina, seperti Hamas. Namun, MSF menegaskan bahwa mereka tidak pernah memberikan jaminan keamanan bagi stafnya jika data tersebut dibagikan, mengutip ratusan pekerja bantuan yang telah tewas atau terluka sejak konflik berlangsung.
Doctors Without Borders (MSF), atau Médecins Sans Frontières, adalah organisasi kemanusiaan medis internasional yang didirikan di Prancis pada tahun 1971 oleh sekelompok dokter dan jurnalis. Motivasinya lahir dari pengalaman mereka dalam perang Nigeria-Biafra dan bencana kelaparan, di mana mereka menyaksikan keterbatasan respon kemanusiaan yang terikat oleh batasan birokrasi dan politik. Organisasi ini kemudian meraih Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1999 atas upayanya memberikan bantuan medis di zona konflik dan epidemi.
Prinsip inti MSF adalah netralitas, independensi, dan ketidakmemihakan. Mereka memberikan perawatan medis semata-mata berdasarkan kebutuhan, tanpa mempertimbangkan etnis, agama, afiliasi politik, atau latar belakang pasien. Kemandirian finansialnya, yang sebagian besar berasal dari donor individu, memungkinkan mereka menolak pendanaan dari pemerintah yang bisa membahayakan netralitas operasi di lapangan.
MSF terkenal karena pendekatan "kesaksian" (témoignage) yang unik. Selain memberikan perawatan, mereka merasa berkewajiban untuk menyuarakan pelanggaran hak asasi manusia dan krisis kemanusiaan yang mereka saksikan, bahkan jika hal itu berarti mengkritik pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Prinsip ini seringkali menempatkan mereka dalam posisi yang sulit dengan pemerintah dan otoritas setempat.
Operasi MSF bersifat tanggap darurat tinggi. Mereka dapat mengerahkan tim dan logistik medis dalam waktu singkat ke daerah bencana, perang, atau wabah penyakit. Spesialisasi mereka meliputi bedah trauma, penanganan epidemi (seperti Ebola dan kolera), kesehatan ibu dan anak, serta kesehatan mental untuk korban trauma.
Dalam konflik seperti di Gaza, peran MSF menjadi sangat krusial. Mereka sering kali mengisi kekosongan pelayanan kesehatan ketika infrastruktur rumah sakit hancur, staf medis tewas, atau pasokan obat-obatan terputus. Dukungan mereka bisa berupa tim medis langsung, donasi peralatan, atau pelatihan tenaga kesehatan lokal.
Kekhawatiran Israel dan Respons MSF
Israel menyatakan kecurigaan bahwa Hamas mungkin telah menyusup atau menekan operasi kemanusiaan di Gaza. Kementerian Urusan Diaspora Israel, tanpa menyertakan bukti, menuduh Hamas menekan MSF dan menyebut Kementerian Kesehatan Gaza menolak berbagi data pada 29 Januari atas alasan keamanan. Israel juga menegaskan bahwa MSF sendiri belum menghubungi otoritas mereka untuk berkoordinasi.
sumber : Antara

2 days ago
9















































