Penasihat Khamenei Tegaskan Posisi Iran Soal Program Nuklir dan Pembicaraan dengan AS

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Iran tidak memiliki keinginan untuk mengembangkan atau memiliki senjata nuklir.

Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara eksklusif dengan saluran satelit Al Mayadeen pada Senin malam. Shamkhani, yang juga merupakan anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan mantan panglima angkatan laut Iran, tampil mengenakan seragam dinas saat menyampaikan penjelasannya.

Lebih lanjut, Shamkhani menyoroti kemungkinan pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai isu nuklir. Ia menyatakan bahwa jika dialog dilakukan, tahap awalnya kemungkinan akan bersifat tidak langsung. Pembicaraan langsung baru akan dipertimbangkan jika terdapat indikasi kuat bahwa kesepakatan dapat tercapai.

Opsi pembicaraan langsung dengan AS merupakan isu yang sangat sensitif di dalam politik Iran, dengan kelompok reformis seperti Presiden Masoud Pezeshkian cenderung mendorongnya, sementara faksi garis keras menentangnya.

Shamkhani menekankan bahwa setiap pembicaraan dengan AS harus sepenuhnya berfokus pada persoalan nuklir. Ia juga menyatakan bahwa Amerika "harus menawarkan sesuatu sebagai imbalan" jika Iran diminta untuk mengurangi tingkat pengayaan uraniumnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan Rusia mengambil alih stok uranium yang diperkaya Iran, seperti yang pernah diusulkan dalam perjanjian nuklir 2015, Shamkhani dengan tegas menolak, dengan alasan "tidak ada dasar" untuk langkah tersebut. Penolakan ini disampaikan meski juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Rusia telah lama menawarkan layanan serupa sebagai salah satu opsi solusi.

"Iran tidak mencari, tidak akan mencari, dan tidak akan pernah menimbun senjata nuklir," tegas Shamkhani. "Namun, pihak lain harus membayar harga yang setimpal sebagai imbalannya."

Saat ini, Iran diketahui telah mengembangkan kemampuan pengayaan uranium hingga kemurnian 60%, yang hanya selangkah lagi dari tingkat yang diperlukan untuk keperluan senjata. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat bahwa Iran adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang mengembangkan uranium hingga tingkat tersebut.

Di sisi lain, Shamkhani mengakui bahwa Iran belum dapat memenuhi permintaan IAEA untuk menginspeksi lokasi-lokasi yang dibom dalam konflik bulan Juni lalu. "Jumlah uranium yang diperkaya di lokasi tersebut masih belum dapat dipastikan, karena sebagian terkubur di bawah reruntuhan. Belum ada inisiatif untuk mengekstraksinya mengingat kondisi yang sangat berbahaya," jelasnya.

Read Entire Article
Politics | | | |