Oleh: Ingki Rinaldi, Khodim Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Tangerang Selatan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Aktivitas dakwah kerap menempatkan pendakwah di bawah sorotan khalayak. Popularitas menjadi konsekuensi tak terhindarkan, bahkan ketika materi yang disampaikan justru tentang keikhlasan, sikap batin yang seolah lebih akrab dengan kesunyian dan ketidaktahuan orang lain.
Dalam tradisi Jawa, salah satu “tangga” menuju ikhlas adalah ngempet: menahan diri, mengendalikan keinginan agar tidak terlihat. Lalu, bagaimana jika ketenaran itu datang tanpa bisa dielakkan? Apakah ikhlas masih mungkin diraih di tengah sorak-sorai pujian dan perhatian massa?
Persoalan inilah yang menjadi inti kajian petang di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam II Depok pada Sabtu, 24 Januari 2026. Pengasuh pesantren, KH Muhammad Yusron Shidqi, mengampu salah satu hikmah dalam Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H/1309 M):
اسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوصِيَّتِكَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِى عُبُودِيَّتِكَ
“Keinginanmu supaya manusia mengetahui rahasia antara dirimu dengan Allah adalah bukti nyata engkau tidak tulus dalam penghambaanmu kepada Allah.”
Menurut Kiai Yusron, secara lahiriah, jika seseorang berharap dikenal sebagai hamba istimewa, saleh, wali, taat, wara’, maka harapan itu sendiri menjadi tanda masih adanya ruang untuk self-branding di hadapan manusia.
Secara batiniah, persoalan muncul ketika seseorang “ingin diketahui” (aktif mencari perhatian), bukan sekadar “diketahui” (keadaan yang diberi Allah secara given). Yang terakhir harus diterima dengan lapang dada; di situlah ikhlas bersemi.
Kiai Yusron menggarisbawahi perlunya menyelaraskan syariat dan hakikat. Syariat menertibkan niat dan memberikan indikator objektif kejujuran batin; hakikat mengosongkan amal dari tuntutan pengakuan dan mengalihkan orientasi dari perbuatan menuju ubudiyyah murni, penghambaan total kepada Allah.
Syariat tanpa hakikat melahirkan amal yang benar tapi haus pujian; hakikat tanpa syariat melahirkan klaim batin tanpa disiplin lahiriah. Keduanya harus saling melengkapi.
Kajian ini memunculkan diskusi hidup melalui enam pertanyaan mendasar:
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
4















































