REPUBLIKA.CO.ID, DOHA – Pemimpin politik Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal, menolak seruan untuk melucuti senjata faksi-faksi Palestina di Gaza. Ia beralasan melucuti senjata dari masyarakat yang dijajah akan membuat mereka menjadi “korban yang mudah untuk dilenyapkan”.
Berbicara pada forum Aljazirah di Doha pada Ahad, Meshaal menggambarkan diskusi seputar penyerahan senjata Hamas sebagai kelanjutan dari upaya selama satu abad untuk menetralisir perlawanan bersenjata Palestina.
“Dalam konteks rakyat kami masih berada di bawah pendudukan, pembicaraan mengenai perlucutan senjata adalah upaya untuk menjadikan rakyat kami sebagai korban yang mudah dilenyapkan dan dengan mudah dimusnahkan oleh Israel yang dipersenjatai dengan segala persenjataan internasional,” ujarnya.
"Jika kita ingin membicarakannya... kita perlu menyediakan lingkungan yang memungkinkan rekonstruksi dan bantuan serta memastikan bahwa perang tidak terjadi kembali antara Gaza dan entitas Zionis. Ini adalah pendekatan yang logis, dan Hamas - melalui mediator Qatar, Turki dan Mesir, dan melalui dialog tidak langsung dengan Amerika melalui mediator - telah mencapai, atau telah ada, pemahaman tentang visi Hamas mengenai hal tersebut. Ya, ini adalah sesuatu yang membutuhkan upaya besar, bukan pendekatan perlucutan senjata."
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bulan lalu berusaha mencapai demiliterisasi Hamas secara “komprehensif”, dan mengancam kelompok Palestina dengan dampak buruk jika mereka gagal melakukannya. Hamas menolak menyerahkan senjata selama Israel terus menduduki Gaza.
Latihan Pilar Perkasa yang digelar kesatuan faksi perlawanan Palestina di Gaza pada September 2023.
Pasukan Stabilisasi Internasional yang beroperasi di bawah Dewan Perdamaian alias Board of Peace disebut bakal melucuti Hamas. AS juga membuka wacana membeli kembali senjata para pejuang dengan dana yang dikumpulkan di Dewan Perdamaian.
Sementara Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan para pimpinan ormas Islam pekan lalu menjanjikan TNI yang diterjunkan ke Gaza tak akan menjalankan tugas pelucutan.
Fase kedua gencatan senjata di Gaza disebut bakal meliputi pelucutan senjata tersebut dan mundurnya pasukan Israel.
Namun sejauh ini Israel terus melakukan serangan mematikan hampir setiap hari di Gaza yang melanggar “gencatan senjata”. Israel sejauh ini menolak untuk menarik diri dari apa yang disebut “Garis Kuning” di Gaza timur, sebuah perbatasan informal yang memisahkan lebih dari separuh wilayah yang masih berada di bawah kendali militer Israel dari wilayah lainnya di Jalur Gaza.
Israel telah membunuh sedikitnya 576 warga Palestina dan melukai 1.543 lainnya sejak “gencatan senjata” terbaru dimulai. “Masalahnya bukanlah Hamas dan pasukan perlawanan di Gaza memberikan jaminan; masalahnya adalah Israel, yang ingin mengambil senjata Palestina… dan menyerahkannya ke tangan milisi untuk menciptakan kekacauan,” kata Meshaal..

2 hours ago
3














































