Gagal Habisi Hamas, Jenderal IDF: Gangguan Jiwa Tentara Melonjak, Rugi Capai Rp500 Triliun

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konflik berkepanjangan di Gaza telah meninggalkan luka mendalam bagi tentara Israel, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikologis.

Gangguan jiwa yang paling banyak dilaporkan adalah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), yang ditandai dengan kilas balik traumatis, mimpi buruk berulang, hiperkewaspadaan, serta penghindaran terhadap situasi yang mengingatkan pada pertempuran.

Selain itu, banyak prajurit mengalami gangguan kecemasan umum, depresi berat, dan gangguan penyesuaian akibat kesulitan berintegrasi kembali ke kehidupan sipil. Beberapa bahkan menunjukkan gejala gangguan penyalahgunaan zat sebagai upaya pelarian dari tekanan psikis yang tak tertahankan.

Penyebab gangguan-gangguan ini bersifat multifaktorial. Paparan trauma langsung dalam intensitas tinggi dan berulang, seperti menyaksikan kematian rekan sejawat, terlibat pertempuran jarak dekat, atau menghadapi serangan tak terduga, menjadi pemicu utama.

Ditambah dengan durasi pertempuran yang panjang tanpa kemenangan jelas, menciptakan perasaan frustrasi dan ketidakberdayaan. Faktor lain termasuk beban moral akibat operasi di lingkungan sipil padat penduduk, kurangnya dukungan sosial pasca-penugasan, serta stigma internal di lingkungan militer yang kerap menganggap masalah kejiwaan sebagai tanda kelemahan.

Kerugian Tentara Israel dalam Perang Melawan Hamas

Kerugian tentara Israel tidak hanya dihitung dari angka korban jiwa, tetapi juga dari kerusakan material dan strategis yang signifikan. Secara fisik, ribuan tentara menderita luka berat, seperti kehilangan anggota badan, cedera otak traumatis, dan luka bakar, yang membutuhkan perawatan seumur hidup.

Selain itu, keausan peralatan militer seperti kendaraan lapis baja, sistem pertahanan udara, dan persenjataan individu telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, mengurangi kesiapan tempur keseluruhan, sebagaimana diberitakan al Mayadeen.

Di sisi non-fisik, militer Israel kehilangan aset tak berwujud yang tak kalah vital: moral pasukan yang merosot, kepercayaan diri yang terkikis akibat ketidakmampuan menetralisir Hamas secara tuntas, dan kredibilitas deterensi di mata kawasan. Kegagalan mencapai tujuan perang yang jelas setelah pengorbanan besar telah memicu krisis legitimasi internal, di mana banyak prajurit mulai mempertanyakan makna pengabdian mereka.

Pemerintah Israel, melalui Kementerian Pertahanan dan IDF, telah mengembangkan sistem layanan kesehatan mental khusus untuk prajurit. Program ini mencakup unit intervensi krisis lapangan yang dikerahkan dekat zona konflik, memberikan konseling segera pasca-trauma. Untuk jangka panjang, dibentuk pusat rehabilitasi psikiatri militer yang menangani terapi individu, terapi kelompok, serta terapi keluarga untuk memulihkan kondisi psikologis prajurit.

Read Entire Article
Politics | | | |