Dorong Daya Saing Industri, Kemenperin Gandeng Markija Perkuat Asesmen SDM Vokasi

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat strategi peningkatan daya saing industri nasional melalui penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) vokasi. Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng Markija Berdaya untuk menerapkan asesmen keterampilan berbasis teknologi guna memastikan lulusan vokasi selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPVI) Kemenperin dan Markija Berdaya yang berlangsung di Gedung PIDI 4.0, Jakarta, Senin (10/2/2026).

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi link and match yang diarahkan untuk menekan kesenjangan keterampilan (skill mismatch) yang selama ini kerap menjadi hambatan produktivitas dan efisiensi industri nasional.

Dalam kolaborasi ini, Markija mengimplementasikan PractiWork, solusi asesmen keterampilan berbasis teknologi, pada empat satuan pendidikan vokasi di bawah Kemenperin, yakni SMK-SMAK Bogor, Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor, Politeknik STMI Jakarta, dan Politeknik APP Jakarta. Asesmen ini ditujukan untuk memperkuat pemetaan kompetensi serta kesiapan lulusan memasuki pasar kerja industri.

Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kemenperin Sidik Herman menilai asesmen keterampilan memiliki peran strategis dalam meningkatkan efisiensi investasi pendidikan vokasi dan produktivitas tenaga kerja.

“Data hasil asesmen menjadi instrumen penting bagi satuan pendidikan vokasi untuk mengevaluasi dan menyempurnakan kurikulum secara berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis kompetensi dan bukti, lulusan yang dihasilkan diharapkan lebih relevan dengan kebutuhan industri,” ujar Sidik melalui keterangan yang diterima Selasa (9/2/2026).

Melalui PractiWork, peserta pendidikan vokasi menjalani asesmen komprehensif yang mencakup keterampilan kerja, kemampuan kognitif dan psikomotorik, karakteristik kepribadian, serta minat dan preferensi kerja. Pendekatan ini dinilai dapat membantu industri memperoleh tenaga kerja yang lebih siap pakai, sehingga menekan biaya pelatihan ulang di awal masa kerja.

Sebagai bagian dari implementasi, Markija telah melakukan uji coba asesmen PractiWork di SMK-SMAK Bogor pada 10–12 September 2025. Hasil asesmen terhadap 47 siswa menunjukkan bahwa potensi dan kesiapan kerja tidak selalu tercermin dari nilai akademik semata.

Pemetaan berbasis data mengelompokkan siswa ke dalam delapan klaster karakteristik. Klaster terbesar merupakan siswa well-rounded yang memiliki keseimbangan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional, yang dinilai penting dalam mendukung kinerja dan adaptasi di lingkungan kerja industri.

Temuan tersebut juga menunjukkan siswa dengan capaian akademik rendah tersebar di berbagai klaster karakteristik, menandakan adanya faktor non-akademik yang memengaruhi kesiapan kerja. Sebaliknya, siswa dengan capaian akademik tinggi cenderung terkonsentrasi pada klaster berkemampuan tinggi dan fokus, memperkuat pentingnya asesmen keterampilan sebagai alat pemetaan SDM yang objektif.

Presiden Direktur Markija Berdaya Csongor Hunyar menegaskan kolaborasi ini sejalan dengan kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga siap secara karakter dan etos kerja.

“Melalui PractiWork, kami ingin menjembatani dunia pendidikan vokasi dan kebutuhan riil industri. Asesmen berbasis data memungkinkan penempatan individu yang lebih tepat, sehingga produktivitas dan keberlanjutan tenaga kerja dapat terjaga,” ujar Csongor.

Ia menambahkan, kecocokan antara kompetensi individu dan kebutuhan industri menjadi kunci dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Didit Ratam. Menurutnya, asesmen keterampilan dapat mempercepat adaptasi tenaga kerja dan menekan learning gap di awal masa kerja.

“Kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri akan membuat tenaga kerja lebih cepat produktif. Ini berdampak langsung pada efisiensi operasional perusahaan dan peningkatan nilai tambah ekonomi,” kata Didit.

Kerja sama antara PPVI Kemenperin dan Markija diharapkan menjadi fondasi penguatan ekosistem pendidikan vokasi berbasis kompetensi industri, sekaligus mendukung agenda peningkatan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.

Read Entire Article
Politics | | | |