REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — China tidak sekadar mengejar Amerika Serikat dalam perlombaan jet tempur siluman. Beijing kini diperkirakan telah membangun armada J-20 dalam jumlah yang bisa mengubah cara Washington, Tokyo, Taipei, bahkan NATO membaca keseimbangan militer di Indo-Pasifik.
“China tidak sekadar membangun jet siluman; China membangunnya lebih cepat daripada negara mana pun membangun pesawat tempur modern dalam beberapa dekade,” tulis Joseph Duncan dalam artikel analisis MigFlug, Sabtu, 4 Juli 2026.
Kalimat itu merangkum kegelisahan baru di Barat. Keunggulan teknologi per unit pesawat tidak lagi cukup bila lawan mampu memproduksi jet tempur siluman dalam skala besar. Dalam perang modern, jumlah bukan sekadar angka. Jumlah menentukan seberapa lama sebuah negara mampu mempertahankan tekanan, mengganti kerugian, dan menggelar operasi udara secara berlapis.
Republika sebelumnya memberitakan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLAAF diperkirakan telah mengoperasikan lebih dari 500 jet tempur siluman generasi kelima J-20. Angka itu dihitung dari estimasi 18 brigade udara yang telah menerima J-20, dengan asumsi sekitar 28 pesawat per brigade, ditambah puluhan pesawat lain untuk pelatihan dan pengembangan taktik.
Namun, angka tersebut tetap harus dibaca sebagai estimasi analis, bukan data resmi yang diumumkan Kementerian Pertahanan China. Beijing tidak secara terbuka memublikasikan jumlah pasti J-20 yang telah masuk layanan.
Bagi Amerika Serikat, arti 500 J-20 bukan semata China memiliki banyak pesawat. Lebih dari itu, Beijing mulai memiliki kapasitas untuk mempertahankan tekanan udara dalam konflik panjang. Dalam skenario perang di Indo-Pasifik, pesawat tidak hanya dihitung dari kemampuan siluman, radar, rudal, dan avionik. Pesawat juga dihitung dari kesiapan operasional, rotasi, perawatan, dan kemampuan menghasilkan sorti secara berkelanjutan.
Kekhawatiran itu pernah muncul dalam pengakuan terbuka pejabat militer AS. Jenderal Kenneth Wilsbach, saat menjabat Komandan Pacific Air Forces, mengatakan dalam diskusi daring Mitchell Institute for Aerospace Studies pada Senin, 14 Maret 2022, bahwa F-35 AS pernah berada cukup dekat dengan J-20 China di Laut China Timur. Pernyataan itu dimuat The Aviation Geek Club pada Rabu, 16 Maret 2022.
“Kami relatif terkesan dengan komando dan kendali yang terkait dengan J-20,” kata Wilsbach. Ia juga mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah China akan menjadikan J-20 sebagai pesawat multiperan seperti F-35 atau lebih sebagai pesawat superioritas udara seperti F-22.

3 hours ago
3

















































