BREAKING NEWS: AS Kembali Bombardir Iran

1 hour ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Rabu malam waktu setempat. Serangan ini kian mengancam kesepakatan gencatan senjata yang makin di ujung tanduk.

Komando Pusat militer AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya telah melancarkan “serangan pertahanan diri tambahan” terhadap “beberapa sasaran di Iran”. CENTCOM mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan atas arahan Presiden AS Donald Trump dan merupakan “respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan”.

Menteri Perang AS Pete Hegseth sejam sebelum serangan mengatakan Komando Pusat AS “akan sibuk malam ini”. “Karena Presiden Trump mengatakan kami akan menghantam Iran dengan keras – dan kami akan melakukannya,” katanya kepada wartawan dilansir Aljazirah.

Meskipun mengancam akan melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran malam ini, Hegseth mengatakan bahwa Teheran “memiliki peluang untuk membuat kesepakatan” dengan Washington.  

Tanpa merinci fasilitas mana yang akan menjadi sasaran militer AS, Hegseth mengatakan kepada wartawan bahwa serangan AS akan “kuat” dan “jelas”. Ia juga mengeklaim bahwa AS mengendalikan Selat Hormuz, dia mengatakan – tanpa bukti apa pun – bahwa Washington “mampu membawa minyak masuk dan keluar” dari jalur air tersebut “dan telah melakukannya selama berminggu-minggu”.

Patut dicatat bahwa perang kali ini dimulai serangan ilegal AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu. Ribuan warga Iran jadi korban jiwa serangan tersebut. Ratusan fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, kilang minyak, sampai fasilitas air minum jadi sasaran serangan AS-Israel.

Iran membalas dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan dan memblokade Selat Hormuz. Meski gencatan senjata parsial disepakati April lalu, AS dan Israel terus melakukan serangan. 

Kelompok Hizbullah di Lebanon ikut perang setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan Israel terkonfirmasi. Serangan dan pencaplokan Israel di selatan Lebanon kemudian dilancarkan Israel dan sejauh ini telah menewaskan sekitar 3.600 orang.

Eskalasinya meningkat belakangan setelah Iran memasukkan penghentian serangan ke Lebanon sebagai syarat gencatan senjata permanen. Iran untuk pertama kalinya kembali menyerang Israel setelah gencatan senjata awal pekan ini.

Duta Besar Iran untuk PBB mengatakan “tidak ada kesepakatan berkelanjutan yang dapat dicapai melalui ancaman, intimidasi, atau penggunaan kekuatan”. 

“Presiden Amerika Serikat harus menahan diri dari ancaman yang berulang terhadap Iran, termasuk ancaman kekerasan yang baru dilakukan hari ini,” kata ⁠Amir Saeid Iravani dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB. 

“Iran tidak akan pernah bernegosiasi di bawah ancaman dan tekanan, dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan atau paksaan,” kata Iravani, seraya menambahkan bahwa AS “seharusnya sudah belajar sekarang bahwa ancaman dan intimidasi militer adalah kontraproduktif”. 

“Jika Washington benar-benar tertarik pada solusi diplomatik, maka mereka harus meninggalkan bahasa ancaman dan terlibat dengan Iran atas dasar saling menghormati, kesetaraan kedaulatan, dan kepatuhan penuh terhadap hukum internasional.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuduh militer AS “sengaja” menyerang infrastruktur air sipil di Sirik, sebuah kota pelabuhan di provinsi Hormozgan, Iran selatan dalam serangan pada Rabu. Serangan itu menghancurkan dua waduk yang memasok air minum ke lebih dari 20.000 penduduk di 10 desa, tulis Baghaei dalam postingan media sosial. 

“Ini bukan kerusakan sampingan – ini adalah kejahatan perang yang diperhitungkan dan merupakan pelanggaran mencolok terhadap hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional,” katanya. “AS harus bertanggung jawab atas serangan brutal sistematis terhadap infrastruktur pendukung kehidupan warga sipil.”

Read Entire Article
Politics | | | |