REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, mengatakan rencana Ajik Krisna membangun hutan bambu seluas 30 hektar di Bali layak diapresiasi sebagai teladan baru ekologi. Langkah ini tepat, terlebih dilakukan ditengah ancaman krisis lingkungan yang makin nyata.
Hal ini disampaikan Toto menanggapi inisiatif Ajik yang merupakan seorang pengusaha makanan oleh-oleh Bali itu, untuk membangun hutan bambu di Bali . Hutan bambu ini rencananya bekerja sama dengan Yayasan Pengrajin Bambu Indonesia (YPBI) pimpinan Aki Jatnika Nanggamihardja.
"Pak Ajik itu sangat layak dapat apresiasi dari pemerintah, khususnya menteri kehutanan dan menteri lingkungan hidup. Karena program hutan bambunya itu menggunakan dana pribadinya, tidak pakai uang negara," kata Toto.
Menurut Toto, apa yang dilakukan Ajik Krisna itu sebenarnya memberi pesan ironis, bahwa masyarakat ternyata bergerak lebih cepat daripada negara. Padahal, negara punya anggaran, kewenangan dan perangkat kebijakan yang seharusnya bisa bergerak lebih cepat.
Membangun hutan bambu dengan skala besar, menurut Toto, seharusnya menjadi program prioritas pemerintah. Bahkan, kalau perlu menjadi proyek strategis nasional. "Saya tak habis pikir, kenapa bambu tak pernah jadi program prioritas. Tak ada roadmap nasional, tak ada masterplan hutan bambu. Dan tak ada juga integrasi bambu dengan agenda besar perubahan iklim," tegasnya.
Toto mencontohkan sejumlah negara seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Filipina, bahkan Myanmar, Ethiopa dan Kenya saja punya hutan bambu yang besar.
Padahal, menurut Toto, negara yang seharusnya memiliki kepedulian dan perhatian serius terhadap bambu itu adalah Indonesia. Karena bambu itu sesungguhnya tanaman asli nusantara yang punya sejarah panjang dengan perjalanan bangsa ini.
Ironisnya, lanjut Toto, Indonesia bukan saja tak punya hutan bambu, tapi juga tak punya lembaga nasional yang khusus melakukan riset tentang bambu. Sementara, China, India dan Jepang itu punya 3 lembaga riset utama.
Kenapa perlu lembaga riset khusus berkelas nasional, menurut Toto, karena bambu itu tanaman yang bukan saja bernilai ekologis, tapi juga ekonomis. Meskipun, harus diakui, Indonesia kalah jauh dengan China, India dan Jepang di bidan teknologi bambu.
Karena itulah, kata Toto, hutan bambu yang mau dibangun pemilik Krisna Holding Company itu menjadi relevan karena salah satu misinya, bukan hanya ekologi, tapi juga ekonomi.
Dicontohkan Toto, di lokasi seluas 30 hektar itu, Ajik Krisna juga akan membangun tempat wisata, pendidikan, pelatihan, kerajinan, seni budaya bambu dan rumah serta vila bambu yang memberi manfaatnya secara ekonomi.

2 days ago
7















































