Transformasi BTN: Dari Ekosistem Gaya Hidup Menuju Akses Hunian

8 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Transformasi perbankan tidak lagi sekadar berbicara tentang digitalisasi layanan. Bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), perubahan itu menyentuh cara baru menjangkau masyarakat dengan masuk ke ruang aktivitas sehari-hari, membaca pergeseran gaya hidup, lalu menghubungkannya dengan akses keuangan dan pembiayaan perumahan.

Di banyak sudut kota, kedai kopi tumbuh cepat. Di Tangerang Selatan, dari Alam Sutera, Gading Serpong, hingga BSD, ruko-ruko dipenuhi kedai kopi. Dalam satu ruas jalan, tiga sampai empat kedai hadir berdampingan. Siang ramai, malam pun tetap hidup.

Fenomena itu bukan sekadar tren ruang temu. Ada perubahan gaya hidup sekaligus pola transaksi di sana. Perubahan inilah yang dibaca serius oleh BTN.

Sosiolog Universitas Udayana Wahyu Budi Nugroho menilai pertumbuhan kedai kopi bukan hanya perkembangan bisnis. Fenomena tersebut, menurutnya, berpeluang membentuk budaya baru di masyarakat.

“Tentu memunculkan budaya baru, yaitu budaya kafe. Sudah banyak penelitian mengenai ini,” ujar Wahyu.

Menurut dia, kedai kopi kerap merepresentasikan karakter profesional muda yang produktif, dinamis, dan modern. Simbol-simbol yang melekat pada kafe membangun asosiasi tentang kreativitas, kemandirian, dan keberhasilan. “Yang dapat membentuk arus kecil budaya baru atau subkultur,” katanya.

Fenomena itu juga terasa dalam keseharian pekerja muda. Yoga (32 tahun), karyawan asal Bekasi, mengaku setidaknya tiga kali dalam sepekan bekerja dari kedai kopi.

“Kalau di rumah kadang kurang fokus. Di kafe suasananya lebih hidup, internetnya stabil, dan bisa sekalian ketemu teman atau klien,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Nadia (30). Ia memilih menyelesaikan pekerjaannya di kedai kopi modern karena dinilai lebih nyaman dan praktis.

“Sekarang semuanya sudah cashless. Bayar pakai QRIS lebih cepat dan tidak ribet. Jadi memang lebih enak kerja di sini,” katanya.

Bagi sebagian anak muda, kedai kopi bukan lagi tempat singgah, melainkan ruang produktif yang menyatu dengan keseharian. Perubahan sosial inilah yang kemudian dibaca sebagai peluang sekaligus tantangan oleh BTN.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan alasan perseroan mulai menjajaki ekosistem kopi. Alasannya sederhana, pasarnya besar dan industri lokal kian menguat. Rantai nilainya pun panjang, dari petani hingga barista.

It’s a big market di Indonesia. Secara komersial bagus. Industri lokalnya kuat, punya potensi ekspor, dan pekerjanya banyak,” ujarnya menjawab pertanyaan Republika usai launching ICX di Common Grounds, Menteng, Jakarta, Kamis (26/2/2026) sore.

Bagi BTN, lanjut Nixon, kopi hari ini bukan lagi sekadar minuman. Ia telah menjadi bagian dari gaya hidup, tempat orang bekerja, bertemu, bahkan menyusun rencana usaha. “Ada pergeseran dari sekadar konsumsi menjadi pengalaman,” kata Nixon.

Read Entire Article
Politics | | | |