REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta menertibkan sejumlah baliho berisi iklan film horor Aku Harus Mati di wilayah ibu kota. Pasalnya, konten dalam baliho itu dinilai mengganggu warga, terutama anak-anak.
Staf Khusus Gubernur Jakarta, Yustinus Prastowo, mengatakan penertiban itu merupakan upaya menjaga kenyamanan warga di ruang publik. Sebab, iklan film yang dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Film Nasional pada 2 April 2026 itu menuai protes karena dianggap terlalu menyeramkan dan tidak ramah anak.
“Total ada tiga lokasi yang sudah kami tertibkan, yaitu dua lokasi berbentuk banner dan satu lokasi videotron," kata dia melalui keterangannya, dikutip Senin (6/4/2026).
Tiga titik yang telah ditindak berada di Jalan Puri Kembangan, Jalan Daan Mogot Km 11 (Jembatan Gantung), dan Pos Polisi Perempatan Harmoni. Pemprov Jakarta akan terus memantau situasi di lapangan dan memastikan setiap laporan masyarakat ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat.
"Kami juga terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan penanganan di titik-titik lainnya,” ujar dia.
Yustinus menambahkan, ruang publik harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk anak-anak. Karena itu, setiap materi komunikasi di ruang publik perlu memperhatikan aspek kepatutan dan dampak psikologis bagi masyarakat luas.
Menurut dia, Pemprov Jakarta akan mengambil tindakan tegas jika masih ditemukan iklan serupa. Langkah penertiban itu diharapkan dapat meredakan keresahan warga sekaligus menjaga ketertiban serta kualitas ruang publik di Jakarta.
Sebelumnya, sejumlah warganet mengeluhkan keberadaan baliho yang berisi iklan film horor itu di media sosial. Pasalnya, penayangan iklan film horor yang dinilai menimbulkan ketakutan di ruang publik.
Film Aku Harus Mati yang disutradarai Hestu Saputra mengisahkan Mala (Hana Saraswati), seorang wanita yang terlilit utang dan teror roh jahat akibat gaya hidup hedon demi validasi kehidupan di ibu kota. Dikutip dari Antara, Iwet Ramadhan yang mewakili produser mengatakan film tersebut memang diambil dari kondisi sosial masyarakat di era media sosial yang lekat dengan gaya hidup hedonis, flexing, dan seolah membutuhkan pengakuan atau validasi sosial yang kuat.
Tekanan sosial yang kuat untuk mendapatkan pengakuan itu tak jarang membuat orang berpikir singkat hingga menyebabkan terjerat pinjaman online (pinjol) hingga harus menghalalkan segala cara di luar logika. "Yang mau kami sampaikan, kami ingin masyarakat untuk lebih berhati-hati. Jangan sampai karena kita butuh validasi dari orang lain, kita butuh terlihat keren di mata orang lain, kemudian kita jadi terjerat hal-hal yang tidak perlu," katanya.
Mengambil lokasi syuting di Yogyakarta selama 18 hari, film ini menawarkan tayangan horor dengan dominasi jumpscare, atau adegan yang dirancang untuk mengagetkan penonton secara tiba-tiba.

10 hours ago
8
















































