Pekerja beraktivitas di dekat tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Hingga saat ini, kondisi sampah masih tampak menggunung dengan ketinggian yang mencapai sekitar enam meter. Tumpukan sampah tersebut didominasi oleh sampah sayuran dan buah. Berdasarkan pantauan Republika di lokasi sejak pukul 10.45 hingga 11.45 WIB, belum terlihat adanya truk yang mengangkut sampah untuk dibuang ke lokasi pengolahan selanjutnya maupun ke TPST Bantargebang. Sejumlah pedagang mengeluhkan kondisi tersebut karena dinilai mengganggu aktivitas dan kenyamanan di area pasar.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persoalan sampah perkotaan kian menggunung dan menuntut solusi yang tidak lagi parsial. Dari Palembang hingga Banjarmasin, bahkan Jakarta dan Kabupaten Lebak, pemerintah daerah kini bergerak serempak, menggeser pendekatan dari sekadar angkut-buang menuju pengelolaan berbasis energi dan ekonomi sirkular.
Di Palembang, beban sampah harian telah mencapai sekitar 1.260 ton. Pemerintah kota mengakui belum seluruh volume itu tertangani optimal, dengan kemampuan pengelolaan berada di kisaran 900 hingga 1.000 ton per hari. Kondisi ini mendorong perubahan strategi, dari pola lama yang bertumpu pada tempat pembuangan akhir menuju edukasi pemilahan sampah sejak dari sumber.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menekankan bahwa perubahan paradigma masyarakat menjadi kunci. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi jika dipilah dengan benar. Salah satu instrumen yang diperkuat adalah peran bank sampah di tingkat kelurahan, terutama untuk mengelola sampah anorganik seperti plastik dan kertas.
Di saat yang sama, Palembang juga menyiapkan solusi berbasis teknologi. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Keramasan ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026. Fasilitas ini diharapkan mampu mengolah sampah dalam skala besar sekaligus mengonversinya menjadi energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Langkah serupa juga mulai dirintis di Banjarmasin, namun dengan pendekatan kolaboratif lintas daerah. Kota ini menggandeng Kabupaten Banjar dan Barito Kuala untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik dalam skema pilot project nasional. Sinergi ini dinilai krusial mengingat total timbulan sampah di ketiga wilayah tersebut mendekati 678 ton per hari.
Wakil Ketua DPRD Banjarmasin Harry Wijaya menilai program ini sebagai peluang strategis untuk keluar dari situasi darurat sampah, terlebih setelah penutupan TPAS Basirih. Menurutnya, teknologi pengolahan sampah menjadi listrik dapat menjadi solusi jangka panjang, meski membutuhkan investasi besar dan kesiapan lahan yang memadai.
Pemerintah daerah bahkan telah mengajukan empat opsi lokasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk pembangunan fasilitas terpadu, mulai dari TPAS Tabing Rimbah hingga kawasan sekitar Terminal Gambut Barakat. Seluruh lokasi tersebut kini tengah dikaji untuk menentukan titik paling representatif bagi implementasi proyek waste to energy.
Sementara itu di Jakarta, pendekatan penanganan masih didominasi oleh skala operasional yang masif. Di Jakarta Selatan saja, sebanyak 190 truk dan lebih dari 1.100 petugas dikerahkan setiap hari untuk mengangkut sampah yang volumenya mencapai sekitar 1.120 ton per hari.
sumber : Antara

4 hours ago
7
















































