Tiang Peradaban

3 hours ago 4

Oleh : Nur Hadi Ihsan Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor

"Pendidikan adalah tiang bagi kemajuan, bahkan dapat dikatakan sebagai asas dan basis dari segala aktivitas kehidupan."

—K.H. R. Zainuddin Fananie, Pedoman Pendidikan Modern, hlm. 102.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bangsa boleh memiliki kekayaan alam, teknologi, dan kekuasaan politik; tetapi tanpa pendidikan yang benar, semuanya akan menjadi bangunan tanpa tiang. Ia tampak megah, namun rapuh. Ia berdiri, tetapi mudah runtuh. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia, dan manusia adalah poros sejarah.

Pak Fananie (begitu panggilan akrab beliau) menegaskan pendidikan sebagai “asas dan basis.” Asas berarti fondasi nilai; basis berarti landasan gerak. Di sinilah pendidikan bukan pelengkap kehidupan, melainkan napasnya. Jika asasnya kokoh, peradaban tumbuh dengan adab. Jika basisnya rapuh, kemajuan berubah menjadi kegelisahan yang terorganisir.

Asas Tauhid Ilmu

Dalam pandangan Islam, pendidikan berakar pada tauhid. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam and Secularism menegaskan bahwa krisis peradaban modern bersumber dari “loss of adab”—hilangnya keteraturan ilmu dalam diri manusia. Pendidikan, karena itu, bukan hanya soal mengetahui, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ilmu tanpa adab melahirkan kebingungan; adab tanpa ilmu melahirkan kebekuan.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din mengingatkan bahwa ilmu sejati adalah yang mendekatkan manusia kepada Allah dan membersihkan jiwanya. Pendidikan adalah tazkiyah yang terstruktur: pembersihan hati melalui penjernihan akal. Maka, asas pendidikan bukanlah pasar kerja, tetapi pembentukan insan yang mengenal Tuhannya dan mengenal dirinya.

Dalam tradisi Barat, kita menemukan gema serupa. Plato dalam The Republic berbicara tentang pendidikan sebagai jalan membalikkan jiwa dari bayang-bayang menuju cahaya. Namun Islam melangkah lebih jauh: cahaya itu bukan sekadar ide, melainkan Nur Ilahi. Di sinilah pendidikan menjadi jalan ma‘rifah, bukan sekadar instrumen sosial.

Basis Peradaban

Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah menulis bahwa kekuatan peradaban bertumpu pada kualitas manusia yang dibentuk melalui ilmu dan disiplin. Ketika pendidikan melemah, ‘ashabiyyah runtuh, dan sejarah bergerak menuju kemunduran. Pendidikan adalah energi laten yang menentukan naik-turunnya umat.

Malik Bennabi dalam The Conditions of Renaissance menyebut problem dunia Islam sebagai “crisis of civilization.” Ia menegaskan bahwa kebangkitan tidak lahir dari retorika politik, melainkan dari rekonstruksi manusia melalui pendidikan yang membentuk ide, etos, dan ruh. Pendidikan adalah pabrik peradaban—tetapi bukan pabrik mekanis, melainkan bengkel ruhani.

John Dewey dalam Democracy and Education melihat pendidikan sebagai fondasi masyarakat demokratis. Namun tanpa dimensi transenden, pendidikan mudah terjebak pada pragmatisme. Di sinilah pentingnya sintesis: kemajuan teknis harus berakar pada kemuliaan moral. Pendidikan bukan hanya menciptakan warga negara, tetapi membentuk hamba Allah yang bertanggung jawab atas sejarah.

Mendidik Jiwa Bangsa

Di pesantren, pendidikan tidak dimulai dari kurikulum, tetapi dari keteladanan. Ki Hajar Dewantara dalam Bagian Pertama Pendidikan menekankan bahwa pendidikan adalah tuntunan hidup tumbuhnya anak. Dalam khazanah kita, tuntunan itu adalah adab, disiplin, kesederhanaan, dan keikhlasan—nilai-nilai yang tidak selalu tercatat dalam silabus, tetapi terpatri dalam jiwa.

Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed berbicara tentang pendidikan pembebasan. Dalam perspektif sufistik, pembebasan yang paling mendasar adalah pembebasan dari hawa nafsu. Tanpa itu, manusia hanya berpindah dari satu bentuk penindasan ke bentuk lain. Pendidikan sejati membebaskan manusia dari kebodohan lahir dan kebutaan batin.

Maka, pendidikan adalah proses membangun jiwa bangsa. Ia menanamkan visi, membentuk karakter, dan menata arah hidup. Di lembaga-lembaga yang setia pada nilai, pendidikan bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan ibadah kolektif—ikhtiar panjang membangun manusia yang berilmu, beradab, dan berjiwa merdeka.

Berdiri dengan Tenang

Pendidikan adalah tiang. Jika ia kokoh, kemajuan berdiri dengan tenang; jika ia rapuh, sejarah menjadi puing. Kita boleh berbicara tentang teknologi, ekonomi, dan globalisasi, tetapi tanpa pendidikan yang berasas tauhid dan berbasis adab, semuanya hanyalah aksesoris zaman.

Di sinilah pertanyaannya yang menghentak: apakah kita sedang membangun gedung peradaban, atau hanya mengecat dindingnya sementara tiangnya kita biarkan keropos?

Mantingan, 13 Februari 2026

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |