REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN – Langkah-langkah perluasan penjajahan yang dilakukan Israel di Tepi Barat kian menjadi-jadi belakangan. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa entitas Zionis tersebut selangkah lagi mencaplok wilayah di tepi timur sungai Yordan.
Kekhawatiran di Yordania mencapai puncaknya pada Ahad, menyusul persetujuan kabinet Israel atas langkah-langkah untuk mendaftarkan sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki sebagai “tanah negara” di bawah Kementerian Kehakiman Israel.
Langkah tersebut, yang digambarkan oleh Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich sebagai “revolusi permukiman”, secara efektif mengabaikan status wilayah pendudukan sejak tahun 1967, dan memperlakukan wilayah tersebut sebagai tanah kedaulatan Israel.
Bagi Yordania, aneksasi birokratis ini merupakan sinyal terakhir bahwa status quo sudah mati. Dengan operasi “Tembok Besi” yang dilakukan militer Israel yang menghancurkan kamp-kamp pengungsi di Jenin dan Tulkarem, lembaga politik dan militer Yordania tidak lagi mempertanyakan apakah pemindahan paksa akan dilakukan, namun bagaimana cara menghentikannya.
“Pemindahan ini bukan lagi sekadar ancaman; melainkan sudah mengarah pada eksekusi di lapangan,” Mamdouh al-Abbadi, mantan wakil perdana menteri Yordania, mengatakan kepada Aljazirah. “Kami melihat penerapan praktisnya… Tanah air alternatif (Yahudi) adalah sesuatu yang akan terjadi; setelah Tepi Barat ini, musuh akan pindah ke Tepi Timur, ke Yordania.”
Ketakutan di Amman bukan hanya soal invasi militer, tapi soal “transfer lunak”, yang membuat kehidupan di Tepi Barat tidak begitu tak tertahankan sehingga memaksa eksodus bertahap ke Yordania.
Keputusan pada Ahad untuk mengalihkan kewenangan pendaftaran tanah ke Kementerian Kehakiman Israel dipandang di Yordania sebagai langkah penting dalam proses ini. Dengan menghapus daftar tanah Yordania dan Ottoman yang telah melindungi hak milik warga Palestina selama satu abad, Israel membuka jalur hukum untuk perluasan permukiman besar-besaran.
Al-Abbadi, seorang tokoh veteran dalam politik Yordania, menunjuk pada perubahan simbolis namun berbahaya dalam nomenklatur militer Israel.
“Ada brigade baru di tentara Israel, bernama Brigade Gilead,” kata al-Abbadi. "Apa itu Gilead? Gilead adalah wilayah pegunungan dekat ibu kota, Amman. Ini berarti Israel melanjutkan praktik strategis mereka dari Sungai Nil hingga Efrat."
Dia berpendapat bahwa Perjanjian Wadi Araba tahun 1994 secara efektif batal demi hukum di mata kepemimpinan Israel saat ini.
“Ideologi Smotrich bukan hanya pandangan satu orang; itu sudah menjadi doktrin negara,” kata al-Abbadi, memperingatkan bahwa konsensus Israel telah berubah secara permanen. "Merekalah yang membunuh perjanjian Wadi Araba bahkan sebelum perjanjian itu lahir... Jika kita tidak bangun, strateginya adalah 'kita atau mereka'. Tidak ada pilihan ketiga."

3 hours ago
5














































