
Oleh: Buya Anwar Abbas*)
Umat Islam sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat. Hal itu tercermin dalam kehidupan empat orang imam yang sangat terkenal dan menjadi pedoman kaum Muslimin. Mereka adalah Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hambali.
Masing-masing mereka mempunyai pengikut, sikap, dan pandangan sendiri-sendiri. Dari situlah, lahir mazhab-mazhab.
Pengikut mazhab Hanafi lebih banyak berada di Asia Selatan dan Turki. Adapun mayoritas mazhab Syafii berada di Asia Tenggara dan Yaman. Pengikut Imam Maliki di Afrika Utara, sedangkan mazhab Imam Hanbali banyak berasal dari Arab Saudi.
Kita mengetahui, para imam mazhab tersebut adalah orang-orang yang alim dan ahli. Mereka pun sangat berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memajukan umat agama Islam.
Kapan mereka hidup? Imam Abu Hanifah (wafat 150 H) hidup sezaman dengan Imam Malik (wafat 179 H). Adapun Imam Malik sezaman dan bahkan menjadi guru bagi Imam Syafi'i (wafat 204 H). Imam Syafi'i kemudian menjadi guru bagi Imam Ahmad bin Hanbal atau Imam Hambali (wafat 241 H).
Di antara keteladanan mereka adalah sikap toleran. Meskipun kerap berbeda pandangan dalam banyak hal, mereka tetap saling hormat menghormati serta tidak mau memaksakan pendapatnya kepada yang lain.
Itu bisa terjadi karena mereka tidak hanya mengutamakan ukhuwah Islamiyah, melainkan juga selalu memandang perbedaan pendapat sebagai rahmat, bukan bencana atau malapetaka.
Oleh karena itu, mereka tidak pernah disibukkan oleh perbedaan, apalagi menjadikan perbedaan itu sebagai dasar untuk memvonis atau menyalahkan pihak lain.
Sebagai contoh, kita amati bagaimana sikap Imam Syafi'i yang berbeda pendapat dengan Imam Abu Hanifah. Kita tahu, Imam Syafi'i dalam shalat subuh membaca qunut, sedangkan tidak demikian halnya bagi Imam Hanafi.
Ketika berziarah ke makam Imam Abu Hanifah di Baghdad, Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada waktu shalat subuh. Ketika ditanya, mengapa tidak qunut, ia pun menjawab, "Saya menghormati Imam Abu Hanifah."
Hal serupa juga diperlihatkan Imam Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi'i. Kita tahu, keduanya sering berbeda pendapat dalam masalah fikih. Meskipun demikian, Imam Hambali menyatakan bahwa dirinya selalu mendoakan Imam Syafi'i dalam shalatnya. Bahkan, hal itu sudah dilakukannya selama 40 tahun.
Maka timbul pertanyaan, apakah kita yang mengagumi dan menjadi pengikut dari para imam tersebut akan berpecah belah hanya karena ada perbedaan pendapat? Tentu saja tidak.
Sekarang ini, ada perbedaan pendapat terkait dengan awal Ramadhan tahun 1447 H. Ada yang berpuasa mulai hari ini (Rabu 18 Februari 2026). Ada pula yang berpuasa mulai besok hari (Kamis 19 Februari).
Dalam hal ini, kita berharap agar masing-masing pihak dapat meniru sikap tasamuh dan toleransi dari para imam mazhab tersebut.
Jangan ada di antara kita yang memaksakan pendapatnya kepada pihak lain karena kita tahu metode yang dipergunakan oleh masing-masing pihak untuk sampai kepada kesimpulannya, yaitu dua metode (hisab dan ru'yah) memang dibenarkan dan diterima oleh syariat.
Oleh karena itu, sikap terbaik yang perlu kita buat ialah, selalu kembangkan saling hormat menghormati di antara saudara seiman. Memang dengan cara itulah, kita akan dapat menegakkan ukhuwah Islamiyah serta persatuan dan kesatuan yang baik dan kuat.
*) Dr H Anwar Abbas MM MAg atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dosen tetap Prodi Perbankan Syariah FEB UIN Syarif Hidayatullah ini juga adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
5














































