Resiliensi Ekonomi Era AI Perlu Keseimbangan Teknologi dan Moral

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketahanan ekonomi dan bisnis di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak cukup diukur dari pertumbuhan dan efisiensi semata. Lebih dari itu, diperlukan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai moral agar transformasi digital tidak melahirkan ketimpangan sosial dan krisis etika.

Hal tersebut disampaikan Dosen Program Magister Manajemen Universitas Yarsi, Dr Ir Any Setianingrum, M.E.Sy, saat menjadi pembicara utama dalam The 2nd International Conference on Emerging Trends in Business, Economics, and IT (ICEBE&IT) 2026 di Pakistan, 2–3 Februari 2026.

Dalam konferensi bertema Climate Change and Resilience: Reimagining Business, Economy, and Technology for a Sustainable Future tersebut, Any menekankan bahwa percepatan teknologi digital dan AI memang meningkatkan efisiensi, namun juga berpotensi memicu ketimpangan, ketidakamanan kerja, serta melemahnya perlindungan tenaga kerja jika tidak diiringi tata kelola etis yang memadai.

“Resiliensi sejati hanya dapat dicapai ketika inovasi teknologi dipadukan dengan energi moral, yakni nilai keadilan, sirkulasi kekayaan, dan tanggung jawab antargenerasi,” ujar Any dalam keterangan tertulis, Senin (9/2).

Ia mengajukan konsep re-equilibrating resilience, yakni pendekatan ketahanan berbasis keseimbangan sistemik antara teknologi dan nilai kemanusiaan. Dalam kerangka ini, AI diposisikan sebagai intelligent trust, yakni alat untuk memperkuat transparansi, keadilan distribusi, serta pengambilan keputusan yang beretika, bukan sebagai pengganti nurani manusia.

Selain itu, Any menyoroti pergeseran global menuju ekonomi kolaboratif dan sirkular, yakni transisi dari kepemilikan ke berbagi, dari ekonomi linear ke sirkular, serta dari orientasi pertumbuhan menuju keberlanjutan jangka panjang. Menurutnya, indikator keberhasilan ekonomi juga perlu melampaui Produk Domestik Bruto (PDB) dengan memasukkan aspek keadilan sosial, tata kelola etis, serta kesejahteraan lintas generasi.

Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh Faculty of Business and Management Sciences, The Government Sadiq College Women University (GSCWU), Bahawalpur, Punjab, Pakistan, bersama sejumlah mitra akademik. Forum ini menyoroti urgensi pengembangan model bisnis berkelanjutan, strategi ekonomi adaptif, serta teknologi hijau dalam menghadapi risiko perubahan iklim seperti panas ekstrem, kekeringan, dan banjir.

Selain Any, sejumlah pembicara internasional turut hadir, antara lain Sagheer Abbas dari Prince Mohammad Bin Fahd University Arab Saudi, Saleem Ahmad dari Guangzhou Vocational University of Science and Technology Tiongkok, serta Piyya Muhammad Rafi-ul-Shan dari Regent’s University London.

Pada akhir konferensi, Universitas Yarsi dan GSCWU juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama akademik. Penandatanganan dilakukan secara daring oleh Rektor Universitas Yarsi Prof dr Fasli Jalal, Ph.D. Kerja sama ini mencakup pengembangan riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta penguatan jejaring akademik internasional.

Read Entire Article
Politics | | | |