Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service belum berdampak signifikan terhadap pasar modal domestik. BEI menyebut kinerja dan fundamental emiten tercatat masih berada dalam kondisi yang solid.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, hingga saat ini tidak terlihat tekanan berarti di tingkat perusahaan tercatat akibat perubahan outlook tersebut. Menurut Jeffrey, penilaian mikro terhadap kinerja emiten tetap menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar.
“Terkait dengan outlook, kami secara mikro melihat bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita masih kuat,” kata Jeffrey dalam konferensi pers kondisi Pasar Modal Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Jeffrey menyampaikan, BEI terus mengimbau investor untuk mengambil keputusan secara rasional dengan mempertimbangkan kondisi fundamental emiten dan menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing. Ia menilai respons pasar seharusnya tidak semata didasarkan pada penilaian eksternal.
Sebelumnya, Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2, namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif. Moody’s menyatakan penyesuaian outlook dilakukan seiring menurunnya prediktabilitas dalam proses pembuatan kebijakan yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan tata kelola.
Moody’s menilai dalam setahun terakhir proses pengambilan kebijakan di Indonesia cenderung kurang koheren dan komunikasi kebijakan dinilai lemah. Kondisi tersebut disebut berkontribusi terhadap meningkatnya volatilitas di pasar saham dan nilai tukar.
Lembaga pemeringkat tersebut juga mencatat penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators, khususnya pada indikator government effectiveness dan regulatory quality. Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Baa2 dengan mempertimbangkan ketahanan ekonomi Indonesia yang ditopang sumber daya alam, demografi yang menguntungkan, serta kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai prudent.
Dalam proyeksinya, Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen dalam jangka menengah dengan defisit fiskal dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto. Namun, risiko depresiasi rupiah dinilai dapat meningkat apabila ketidakpastian kebijakan berlanjut.
Moody’s juga menyoroti potensi tekanan fiskal dari fokus belanja publik untuk mendorong pertumbuhan, terutama mengingat basis penerimaan negara yang masih terbatas.

2 hours ago
3















































