REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musik orkestra sering kali dipandang sebagai sesuatu yang jauh, megah, sekaligus berjarak dari keseharian masyarakat umum. Namun, di tangan Addie MS bersama rekannya Oddie Agam dan Indra Usmansjah Bakrie, benteng eksklusivitas itu perlahan melunak.
Perjalanan panjang selama 35 tahun tidak hanya mencatat statistik pertunjukan, melainkan juga memotret bagaimana sebuah gagasan musik klasik bertahan di tengah naik turunnya industri hiburan di Indonesia. Ketika gagasan pembentukan orkestra pertama kali dicetuskan, respons yang berembus tidak sepenuhnya berupa tepuk tangan. Musisi yang saat itu sedang berada di puncak kesibukan industri pop Tanah Air justru disambut oleh keraguan dari lingkungan terdekatnya.
“Padahal saat itu saya sedang sibuk-sibuknya di industri musik. Membuat album penyanyi ini, penyanyi itu. Untuk kaset, saat itu, ya, kemudian CD. Jadi artinya, di musik komersial. Tiba-tiba mau sok orkes. Terus diketawain sama temen-temen, ‘alah, paling dua bulan’,” kata Addie MS saat konferensi pers di Jakarta pada Selasa (28/7/2026).
Keraguan tersebut tidak lantas memadamkan niat, melainkan bertransformasi menjadi dorongan untuk membuktikan sebaliknya. Daya tahan Twilite Orchestra selama lebih dari 30 tahun menjadi jawaban atas keraguan masa lalu, sebuah pencapaian yang diakui pendirinya sebagai gabungan dari ketekunan dan takdir.
“Kok, dua bulan diramalkan, akhirnya bisa sampe hari ini 35 tahun. Kalau bukan karena kemurahan Yang Maha Kuasa, nggak mungkin lah. Banyak kejadian-kejadian yang bikin saya surprise,” ujar Addie.
Langkah awal kolektif ini justru bermula dari sebuah ajakan yang tak terduga. Indra Usmansjah Bakrie, melalui keponakannya, almarhum Oddie Agam, berniat menghadirkan pertunjukan orkestra untuk meramaikan acara penataan rumah (housewarming) di kawasan Anyer.
Gagasan tersebut mulanya sempat ditolak oleh Addie mengingat kerumitan teknis dan logistik pertunjukan orkestra. Namun, pendekatan pribadi akhirnya meluluhkan keputusannya. Momen itu terjadi tepat pada hari ulang tahun pertama sang putra.
“Suatu ketika, anak saya Kevin Aprilio ulang tahun satu tahun. Tahun ‘91. Datenglah Oddie Agam dengan anaknya, Alif. Pas pulang dari acara ulang tahun Kevin itu… ‘Di, please. Tolong gue, Di. Indra nih mau banget lo di acara housewarming.’ Maka akhirnya luluh saya,” ujar Addie.

6 hours ago
10















































