Seni tanpa Pengarang

1 hour ago 2

Image Riswan Hidayat

Sastra | 2026-09-22 13:41:57

Barangkali kita terlalu lama diajari mencintai nama sebelum mencintai karya.

Kita memasuki galeri dengan membaca nama pelukisnya terlebih dahulu, membeli buku karena mengenali penulisnya, serta mendengarkan lagu karena mengagumi penyanyinya. Bahkan sebelum sebuah karya sempat berbicara, kita sudah terburu-buru bertanya: siapa yang membuatnya? Seolah-olah nilai sebuah karya sepenuhnya bergantung pada nama yang melekat di belakangnya.

Padahal, sebagian besar kebudayaan manusia lahir melalui cara yang sebaliknya. Kita tidak pernah tahu siapa yang pertama kali menyusun tembang-tembang rakyat. Tidak ada satu nama pun yang dirujuk sebagai pencipta tunggal motif batik klasik. Cerita rakyat berpindah dari satu mulut ke mulut lain tanpa membawa identitas pengarangnya, sebagaimana wayang terus bertransformasi selama berabad-abad tanpa seorang pun mampu mengklaim kepemilikan atas kisah-kisah itu.

Yang bertahan bukanlah nama, melainkan kehidupan dari karya itu sendiri.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kebudayaan dan industri kreatif. Industri membutuhkan identitas, sedangkan kebudayaan membutuhkan pewarisan. Dalam industri, nama berfungsi sebagai jaminan mutu dan merek yang memudahkan orang mengenali produk; semakin kuat nama tersebut, semakin mudah karya berikutnya menyedot perhatian. Sebaliknya dalam kebudayaan, sebuah karya justru menjadi milik bersama ketika ia perlahan-lahan melepaskan diri dari tangan yang melahirkannya. Semakin banyak orang menghidupkannya, semakin memudar arti kepemilikan individual.

Sayangnya, kita kini hidup pada masa ketika arah itu berbalik: nama tumbuh jauh lebih cepat daripada karya. Pengarang menjadi tokoh utama, sementara karya bergeser menjadi sekadar bukti keberadaan sang tokoh. Buku diperlakukan sebagai perpanjangan citra penulisnya, lukisan menjadi penegas identitas pelukisnya, dan pertunjukan menjadi panggung reputasi sutradaranya. Yang dipelihara bukan lagi kehidupan karya, melainkan keberlangsungan nama.

Maka tidak mengherankan jika banyak seniman merasa wajib untuk terus hadir. Mereka harus menjelaskan karya, mempertahankan tafsir, memperbarui citra, dan menjaga keterlihatan—seolah-olah karya tersebut tidak sanggup hidup tanpa pengawasan penciptanya.

Padahal, setiap karya yang benar-benar hidup selalu memiliki keberanian yang sama: ia berani meninggalkan pengarangnya. Bukan karena benci, melainkan karena ingin bertumbuh. Sebagaimana seorang anak yang tidak lahir untuk selamanya tinggal di rumah orang tua, sebuah karya pun harus memasuki ruang pengalaman orang lain. Ia harus siap diperdebatkan, dipelesetkan, disalahpahami, bahkan mungkin digunakan untuk tujuan yang tidak pernah dibayangkan oleh penciptanya. Semua itu bukanlah tanda bahwa karya kehilangan martabat, melainkan bukti bahwa ia mulai memperoleh kehidupan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, kita perlu bersikap kritis terhadap kebiasaan yang selalu meletakkan nama pengarang sebagai pusat perbincangan. Pengarang mungkin memang diperlukan saat karya dilahirkan, tetapi setelah itu, ia hanyalah bagian dari biografi karya—bukan pusat dari kehidupan karya itu sendiri.

Sebuah puisi yang terus dibaca tanpa lagi diingat nama penyairnya tidak sedang mengalami kematian; barangkali ia justru sedang mencapai bentuk kehidupannya yang paling tinggi. Sebuah lagu yang dinyanyikan anak-anak tanpa diketahui penciptanya tidak kehilangan kehormatan; ia telah menjadi bagian dari bahasa. Demikian pula motif batik yang terus berkembang tanpa dapat ditelusuri tangan pertamanya; keasliannya justru terletak pada kesediaannya untuk terus berubah.

Mungkin inilah pelajaran yang diam-diam disimpan oleh tradisi Nusantara. Tradisi tidak membangun monumen bagi pengarang, melainkan menyediakan ruang agar karya terus berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Karya tidak diabadikan dengan cara dibekukan, melainkan dengan cara diwariskan.

Masa depan seni tidak terletak pada seberapa besar nama pengarangnya, melainkan pada sejauh mana kemampuan karya tersebut untuk hidup mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada nama itu. Keberhasilan tertinggi seorang seniman bukanlah ketika semua orang mengenali dirinya, melainkan ketika orang-orang masih menyanyikan lagunya, mengutip kalimatnya, dan menghidupkan karyanya, sementara namanya perlahan melenyap bersama waktu.

Sebab pada akhirnya, pengarang hanyalah titik mula, sedangkan karya adalah perjalanan. Dan kebudayaan akan selalu memilih untuk merawat perjalanan, bukan menetap di titik keberangkatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |