Oleh: Taufik Hidayatullah, Dosen Program Studi Sistem Informasi UBSI Kampus Sukabumi
REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Dunia akademik kerap menempatkan publikasi jurnal ilmiah sebagai tantangan yang terasa lebih menakutkan dibandingkan ujian akhir.
Fenomena “naskah abadi” yang tak kunjung selesai, tersimpan rapi di laptop tanpa perkembangan berarti, sudah menjadi cerita umum di kalangan mahasiswa tingkat akhir dan akademisi muda. Kursor yang hanya berkedip di layar sering kali menjadi simbol kebuntuan berpikir sekaligus lemahnya daya dorong untuk memulai.
Sebuah infografis dari Literasi Sains Indonesia mengungkap, prokrastinasi akademik bukan sekadar persoalan malas. Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran perilaku akademik yang dipengaruhi kuat oleh ekosistem digital.
Penundaan menulis jurnal kini merupakan persoalan kompleks yang melibatkan faktor psikologis, teknologi, hingga pola komunikasi akademik.
Fenomena “scroll” media sosial menjadi penyumbang terbesar, yakni 30 persen penyebab mandeknya penulisan jurnal. Kondisi ini mencerminkan realitas ekonomi perhatian, di mana fokus manusia menjadi komoditas yang diperebutkan algoritma.
Platform digital dirancang memberi gratifikasi instan berupa hiburan singkat dan rangsangan visual cepat. Sebaliknya, menulis jurnal menuntut kerja mendalam, konsentrasi panjang, serta hasil yang tidak langsung terasa.
Ketimpangan ini membuat otak lebih mudah memilih layar gawai dibanding tumpukan jurnal ilmiah. Selain faktor digital, hambatan internal berperan signifikan. Mitos “menunggu mood” menyumbang 25 persen, disusul perasaan “belum siap mental” sebesar 10 persen.
Jika digabungkan, lebih dari sepertiga hambatan berasal dari dalam diri mahasiswa.
Menunggu mood sering kali berkaitan dengan perfeksionisme, yaitu keinginan menulis dalam kondisi ideal yang nyaris tidak pernah datang.
Padahal, penulisan ilmiah proses bertahap yang membutuhkan disiplin, bukan inspirasi sesaat. Ketidaksiapan mental juga muncul karena jurnal dipersepsikan sebagai beban besar yang harus diselesaikan sekaligus, bukan pekerjaan yang bisa dipecah menjadi bagian kecil.
Hambatan lain datang dari aspek teknis dan komunikasi. Sebanyak 20 persen mahasiswa menunda karena menunggu balasan dosen, sementara 15 persen merasa malas mengatur referensi. Komunikasi yang lambat memang bisa menjadi kendala, tetapi sering kali dijadikan alasan untuk berhenti total.
Padahal, banyak pekerjaan lain yang tetap bisa dilakukan sambil menunggu, seperti menyusun tinjauan pustaka atau merapikan sitasi.
Ironisnya, keengganan mengelola referensi terjadi di tengah melimpahnya perangkat lunak gratis seperti Mendeley dan Zotero. Masalahnya bukan ketiadaan alat, melainkan rendahnya literasi pemanfaatannya.
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif memahami tantangan ini dan mendorong mahasiswa untuk membangun kemampuan adaptasi digital serta manajemen diri. Menulis jurnal tidak cukup hanya dengan penguasaan teori, tetapi juga memerlukan strategi kerja yang realistis.
Mengubah pola pikir dari menunggu menjadi menjemput adalah kunci utama. Jurnal ilmiah lahir dari sistem kerja yang konsisten, bukan dari mood yang datang tiba-tiba.
Membuat kerangka tulisan, menetapkan target kecil harian, serta berani melakukan tindak lanjut secara profesional adalah langkah konkret memutus siklus prokrastinasi. Mengalahkan godaan scroll dan mentalitas menunggu mood bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar jurnal tidak selamanya terjebak di layar kaca.

3 hours ago
7















































