REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pada abad ke-8 Hijriyah, bukan perkara mudah bagi seorang ahli fikih yang hidup di bawah pemerintahan militer seperti Kesultanan Mamluk untuk mengatakan kepada para penguasa bahwa harta rakyat bukanlah milik mereka bahwa penguasa hanyalah wakil umat, bukan tuan atas rakyat dan bahwa tugas seorang ulama adalah berdiri menghadang penguasa ketika ia melakukan kezaliman.
Namun, Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali as-Subki melakukan semua itu. Ia harus membayar mahal sikapnya dengan pencopotan jabatan, pemenjaraan, dan pengejaran.
Meski demikian, ia meninggalkan salah satu warisan intelektual yang paling menarik dalam khazanah Islam tentang kritik terhadap kekuasaan dan etika pemerintahan.
Dalam salah satu mahakarynya, Mui'd al-Ni’am wa Mubid as-Saqam, As-Subki menyoroti apa yang ia anggap sebagai “kejahatan” yang dilakukan sebagian sultan pada masanya maupun pada masa sebelumnya, khususnya dalam persoalan pengelolaan dan pemborosan harta.
Ia mengkritik kebiasaan memberikan kekayaan dalam jumlah besar kepada para penyair dan penjilat, sementara mayoritas kaum Muslimin hidup dalam kemiskinan, kekurangan, dan kesulitan.
Ia mengatakan, “Sejarah telah dipenuhi kisah tentang orang-orang yang memberikan ribuan kepada para penyair, ribuan kepada para mamluk, dan ribuan untuk hiburan. Semua itu pada akhirnya menjadi bencana bagi pelakunya.”
As-Subki kemudian membandingkan perilaku tersebut dengan kondisi Baitul Mal pada masa Umar bin Khattab. Ia mengingatkan bahwa Umar wafat dengan hanya mengenakan pakaian yang tidak memiliki pakaian lain sebagai pengganti.
Umar bahkan pernah menolak memberikan sesuatu dari Baitul Mal kepada seseorang yang membacakan syair untuknya.
Setelah itu, as-Subki mengkritik para sultan pada zamannya dengan bahasa yang sangat terbuka dan tanpa sindiran.
“Inilah jalan hidup para pemilik kebenaran dan agama. Kami tidak menuntut orang-orang pada zaman kita untuk mencapai kedudukan tersebut, karena mereka tidak akan mampu mencapainya. Namun, kami mengingatkan mereka tentangnya, semoga mereka kembali kepada jalan yang benar atau setidaknya mengurangi apa yang selama ini mereka lakukan.”

3 hours ago
8









































