Ghibah Modern: Ketika Dosa Dikemas Menjadi Hiburan

3 hours ago 7

Image Ummu Firly

Agama | 2026-08-08 15:13:57

Ilustrasi bayangan seseorang sedang melihat pantulan dirinya di cermin, fokus memperbaiki diri daripada mengaudit kehidupan orang lain. (AI-Generated)

"Eh, kamu tahu nggak?"

Kalimat sederhana itu sering menjadi awal obrolan yang sebenarnya tidak sederhana. Secangkir kopi, beberapa teman, lalu nama seseorang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan. Penampilannya dibahas, rumah tangganya dikomentari, kondisi ekonominya ditebak-tebak. Kadang, kehidupan orang yang sedang dibicarakan bahkan tidak ada hubungannya dengan mereka yang sedang mengobrol. Anehnya, obrolan seperti ini sering terasa begitu seru. Ada saja bahan untuk ditertawakan dan dikomentari.i

Ironisnya, suasana semacam itu justru terasa hangat. Tawa pecah. Percakapan menjadi hidup. Seolah-olah membicarakan kehidupan orang lain adalah bumbu wajib dalam setiap pertemuan.

Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia nyata. Di media sosial, kebiasaan semacam ini menemukan tempat yang jauh lebih luas. Tidak harus menyebut nama secara terang-terangan. Cukup membuat status dengan kalimat yang menyindir, menulis quote yang sengaja diarahkan kepada seseorang, atau mengunggah "curhatan" tentang masalah pribadi. Teman-teman yang membaca kemudian ikut menebak-nebak: Siapa yang dimaksud? Memangnya ada masalah apa? Dari situlah pembicaraan melebar. Yang awalnya hanya satu cerita, bisa berubah menjadi konsumsi banyak orang.

Banyak orang merasa dirinya tidak bersalah. Alasannya sederhana, "Saya hanya mengatakan fakta."

Padahal, justru di situlah letak kesalahpahaman yang paling berbahaya.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai. Ketika para sahabat bertanya, "Bagaimana jika yang saya katakan itu benar?" Beliau menjawab bahwa jika memang benar, itulah ghibah. Jika tidak benar, maka itu fitnah.

Jadi, mengatakan sesuatu yang benar tentang seseorang tidak otomatis membuat kita terbebas dari ghibah. Justru di sinilah banyak orang keliru. Karena merasa yang disampaikan memang fakta, mereka menganggap tidak ada masalah. Padahal, kalau orang yang dibicarakan tidak suka aib atau kekurangannya diketahui orang lain, di situlah kita perlu berhenti dan berpikir: untuk apa sebenarnya cerita itu disampaikan?

Sayangnya, budaya digital telah mengaburkan batas tersebut. Banyak orang merasa sedang memberi analisis, padahal sedang menghakimi. Merasa sedang peduli, padahal sedang menyebarkan kebencian. Merasa hanya berbagi cerita, padahal sedang memindahkan dosa ke dalam buku amalnya sendiri.

Mengapa ghibah begitu mudah dilakukan?

Karena ia memberi kenikmatan semu. Saat membahas kelemahan orang lain, seseorang sering merasa dirinya lebih baik, lebih paham, atau lebih berhasil. Dalam hitungan menit, rasa rendah diri tertutupi oleh sensasi menjadi "orang yang tahu."

Namun kenikmatan itu hanyalah ilusi. Yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya. Ghibah perlahan mengikis ketenangan hati, merusak kepercayaan antarsahabat, dan menciptakan lingkungan yang dipenuhi prasangka.

Pertemanan yang dibangun di atas kebiasaan membicarakan orang lain sesungguhnya rapuh. Hari ini seseorang menjadi teman bergosip, esok ia bisa menjadi bahan gosip berikutnya. Tidak ada rasa aman dalam lingkungan seperti itu.

Al-Qur'an menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat mengguncang hati. Allah mengibaratkan pelakunya seperti memakan daging saudaranya yang telah mati. Gambaran ini menunjukkan betapa menjijikkannya perbuatan tersebut, meskipun sering kali terasa biasa di mata manusia.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah akibatnya di akhirat. Rasulullah SAW mengingatkan tentang orang yang datang membawa pahala salat, puasa, dan sedekah, tetapi akhirnya bangkrut karena pernah menzalimi orang lain. Pahalanya dipindahkan kepada mereka yang dizalimi hingga habis. Inilah hakikat al-muflis, kebangkrutan yang sesungguhnya.

Di era digital, ancaman itu semakin besar. Satu komentar dapat dibaca ribuan orang. Satu unggahan dapat tersebar ke berbagai grup. Jejak digital membuat dosa lisan tidak lagi berhenti pada satu majelis, tetapi terus berulang selama konten itu beredar.

Karena itu, menjaga lisan hari ini berarti juga menjaga jari dan layar gawai. Tidak semua yang benar harus disampaikan. Tidak semua yang diketahui harus dibagikan. Tidak semua percakapan harus diikuti.

Islam mengajarkan agar seorang mukmin lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mengaudit kehidupan orang lain. Sebab setiap manusia memiliki kekurangan yang Allah tutupi. Jika Allah membuka seluruh aib kita di hadapan manusia, mungkin kita pun tidak akan sanggup mengangkat kepala karena malu.

Sudah saatnya kita mengubah budaya percakapan. Jadikan majelis sebagai tempat saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Pilih lingkungan yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang menjadikan dosa sebagai hiburan. Sebab kualitas seseorang bukan hanya tampak dari kecerdasannya berbicara, tetapi dari kemampuannya menahan lisan ketika ada kesempatan untuk menggunjing orang lain.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh komentar dan penilaian, diam karena takut kepada Allah sering kali menjadi bentuk kemuliaan yang paling tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

Mungkin kita tidak mampu menghentikan semua ghibah di sekitar kita. Namun setidaknya kita bisa memutus rantainya, dimulai dari diri sendiri. Sebab setiap kata yang kita tahan karena Allah bukanlah kehilangan kesempatan berbicara, melainkan investasi keselamatan di akhirat.

Wallahu a'lamu bish-shawwab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |