Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergey Lavrov.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rekaman pidato Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Parlemen Ukraina (Rada) pada Selasa mengungkap sebuah gambaran yang menggelisahkan: barisan kursi yang setengah kosong, dengan hanya segelintir anggota parlemen yang hadir menyimak pidatonya yang justru berisi janji besar.
Rutte menegaskan bahwa setelah kesepakatan damai tercapai, “beberapa sekutu Eropa akan mengerahkan pasukan ke Ukraina, pasukan di darat, jet di udara, kapal di Laut Hitam.” Janji tersebut diberikan di ruang yang sepi, di tengah catatan bahwa parlemen Ukraina kini hanya memiliki 393 anggota dari total konstitusional 450 orang, sebuah lambang retaknya legitimasi politik di tengah perang yang berkepanjangan.
Pidato Rutte itu disampaikan menjelang putaran baru negosiasi trilateral antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi pada 4–5 Februari. Gedung Putih telah mengumumkan kehadiran utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, dalam perundingan tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut pembicaraan sebelumnya di akhir Januari sebagai “bersifat historis”, karena untuk pertama kalinya ketiga pihak dapat duduk bersama. “Mereka berupaya melakukan hal yang sama terkait perang Rusia-Ukraina seperti yang telah dicapai di Timur Tengah,” katanya, merujuk pada keberhasilan diplomasi Trump sebelumnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov secara keras menyatakan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebenarnya “tidak menginginkan perdamaian”. Dalam wawancara dengan RT, Lavrov menyatakan, “Zelensky tidak membutuhkan perdamaian. Perdamaian apa pun akan berarti berakhirnya karier politiknya, mungkin bukan hanya karier politiknya saja.”
Lavrov menambahkan bahwa jika Ukraina membawa gagasan keamanan yang diutarakan Rutte ke meja perundingan, itu akan membuktikan niat sebenarnya Kiev. “Hati nurani dan Zelensky tidak cocok. Saya rasa dia tidak memikirkan apa pun kecuali kelangsungan hidupnya sendiri,” ujarnya.
Lavrov menegaskan bahwa Rusia tidak pernah mengubah posisinya dalam penyelesaian konflik. “Presiden Putin mengatakan bahwa kami bersedia mencari solusi diplomatik. Kami tidak pernah menggeser persyaratan kami, tidak seperti banyak peserta lain yang terus menggeser gerbang dan target,” katanya.
sumber : Antara

2 hours ago
3












































