Mengapa Warga Yaman Tidak Takut Perang Baru?

3 hours ago 8

Tangkapan layar dari video di media sosial terkait serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi, Sabtu (25/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, MA'RIB — Di depan rumah sederhananya yang dibangun dari lembaran seng, batu, dan tanah liat di pinggiran Kamp Pengungsian Suwaida, sebelah barat Ma'rib, Abu Asim Muhammad al-Faqih, 50-an tahun, duduk sambil menghitung beberapa ribu riyal Yaman yang dikirimkan putranya, seorang prajurit di militer Yaman.

Uang itu dipotong dari gaji pertama yang diterima sang anak, sebesar 1.000 riyal Saudi atau sekitar 266 dolar AS per bulan.

Beberapa tahun lalu, Abu Asim mengungsi bersama keluarganya dari Provinsi Hudaidah. Ia meninggalkan rumah sekaligus sumber penghidupannya dan menetap di Ma'rib, seperti jutaan warga Yaman lainnya yang terpaksa meninggalkan kampung halaman akibat perang.

Kini, meski gaji baru tersebut sedikit meringankan beban utang dan biaya hidup, pria itu terus mengikuti dengan saksama eskalasi militer yang berlangsung cepat.

Ia berharap perkembangan terbaru ini menjadi awal dari jalan menuju berakhirnya perang yang telah berlangsung lama dan memungkinkan para pengungsi kembali ke tanah mereka.

"Ini pertama kalinya saya merasa benar-benar ada harapan. Jika perang berakhir, kami akan kembali ke tanah kami. Hanya itu yang kami inginkan," katanya kepada Aljazeera, dikutip Senin (10/8/2026). 

Namun, ada sebuah paradoks. Ma'rib, meskipun menghadapi eskalasi politik dan militer di berbagai wilayah Yaman, tidak tampak sedang bersiap menghadapi perang.

Tidak terlihat gelombang baru pengungsian, tidak ada penimbunan bahan makanan secara besar-besaran, dan tidak tampak kepanikan massal.

Seolah-olah warga kota ini sudah terbiasa hidup dalam bayang-bayang kemungkinan perang, bahkan lebih terbiasa dengan ancamannya daripada dengan pecahnya perang itu sendiri.

Jauh dari pernyataan militer dan retorika politik, perang bagi ribuan pengungsi di kamp-kamp Ma'rib sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Perang seakan tidak pernah benar-benar meninggalkan kehidupan mereka.

Read Entire Article
Politics | | | |