REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah berhasil dipadamkan. Meski api utama telah dikendalikan, tim di lapangan masih melakukan penyisiran dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara atau sumber api yang kembali menyala.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, deteksi dini dan respons cepat tetap diperlukan untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, sistem peringatan dini, termasuk pemantauan titik panas, perlu dimanfaatkan untuk mencegah kebakaran berkembang lebih luas.
“Jangan menunggu api membesar. Manfaatkan sistem peringatan dini kita melalui pantauan hotspot Sipongi+ dan teknologi lainnya, lakukan deteksi awal, dan lakukan penanganan sedini mungkin," kata dia melalui keterangannya, Senin (10/8/2026).
Kebakaran melanda kawasan TNGR pada Jumat (7/8/2026). Kebakaran tersebut didominasi tutupan savana dan semak belukar kering yang mudah terbakar dalam kondisi musim kemarau.
Setelah menerima laporan, tim gabungan langsung bergerak melakukan penanganan di lapangan. Sedikitnya 30 hektare kawasan TNGR terdampak kebakaran.
Kebakaran berhasil dikendalikan pada Sabtu (8/8/2026). Setelah api utama dipadamkan, tim melanjutkan penyisiran untuk memastikan tidak terdapat bara maupun sumber api yang berpotensi kembali menyala.
Pemantauan lanjutan dilakukan hingga seluruh titik dipastikan benar-benar padam. Langkah tersebut diperlukan karena kawasan yang terbakar memiliki vegetasi savana dan semak belukar yang mudah terbakar, terutama selama musim kemarau.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Dalkarhut Jabalnusra) Bambang Setyo Antoko mengatakan, kecepatan respons dan kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam mencegah kebakaran hutan berkembang lebih luas.
Menurut Bambang, kecepatan Manggala Agni bersama pengelola kawasan dan seluruh unsur di lapangan dalam melakukan pemadaman menjadi kunci penanggulangan dini kebakaran hutan.
"Kolaborasi ini harus terus diperkuat, karena keberhasilan pengendalian kebakaran merupakan tanggung jawab bersama,” kata Bambang.
Meski api telah padam, Bambang menilai penanganan kebakaran tidak berhenti setelah pemadaman. Pemantauan dan kewaspadaan tetap diperlukan, khususnya pada kawasan dengan vegetasi savana yang mudah terbakar pada kondisi kemarau.
Bambang menjelaskan, TN Gunung Rinjani merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Nusa Tenggara Barat. Kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis dalam menjaga keanekaragaman hayati, habitat berbagai jenis flora dan fauna, tata air, serta keberlanjutan ekosistem.
Selain itu, kawasan TN Gunung Rinjani memiliki nilai sosial dan budaya bagi masyarakat sekitar yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Karena itu, upaya pelestarian kawasan konservasi perlu dilakukan bersama, salah satunya melalui pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dengan melibatkan berbagai pihak.
Bambang menegaskan, keberhasilan pengendalian kebakaran di Sembalun tidak terlepas dari sinergi berbagai unsur yang terlibat di lapangan.
“Operasi pemadaman di Sembalun menunjukkan pentingnya sinergi antara Manggala Agni, pengelola kawasan, TNI, Polri, MPA/MMP, masyarakat, dan unsur terkait lainnya. Kerja bersama di lapangan memungkinkan api segera dilokalisasi dan dipadamkan sebelum berkembang lebih luas” kata dia.
Ia juga mengingatkan seluruh jajaran dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pada musim kemarau.
Apabila melihat kemunculan asap atau tanda-tanda kebakaran, masyarakat diharapkan segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

8 hours ago
20
















































