REPUBLIKA.CO.ID, GROBOGAN - Kemarau berkepanjangan menyebabkan warga Dukuh Joho, Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali mengalami krisis air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup serta ekosistem sekitarnya seperti pertanian dan peternakan.
Hingga saat ini, Senin (10/8/2026) kemarau menyebabkan bukan hanya persediaan air yang menyusut, tapi juga kondisi ekonomi masyarakat. Mata pencaharian masyarakat Dukuh Joho didominasi petani jagung dan peternak domba atau sapi.
“Karena kekeringan di ladang mereka, yang kedua tidak bisa menanam lagi, kemudian yang pekerja itu ikut istrinya mencari air jadi dampak spesifiknya masalah perekonomian warga karena terdampaknya kekeringan sedangkan warga membantu para istrinya mencari air juga demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Nur Cholis selaku Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa Jawa Tengah.
Upaya para petani untuk memulai musim tanam berikutnya juga dipertaruhkan pada masa paceklik ini. Karena mayoritas warga Dukuh Joho menggantungkan hidup sebagai petani jagung di lahan milik Perhutani. Lahan tersebut mereka sewa dengan biaya sekitar Rp 1,3 juta setiap musim panen atau setiap tahun.
Tak hanya Boyolali, kondisi serupa juga dialami warga di Kabupaten Grobogan. Di Dukuh Kedung Bunder, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, sebanyak 120 kepala keluarga mulai mengalami kekeringan sejak pertengahan Juli 2026. Warga menggali sumur-sumur kecil di dasar sungai yang mengering untuk mendapatkan air.
Di Dukuh Brumbung, Desa Panimbo, Kecamatan Kedungjati, sebanyak 80 kepala keluarga juga menghadapi kondisi serupa sejak akhir Juli. Ketika musim kemarau terus berlangsung, air menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari.
Melihat kondisi tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak. Pada akhir Juli, sebanyak empat truk tangki dengan kapasitas masing-masing 9.000 liter didistribusikan ke wilayah terdampak. Total 36.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 370 warga.
“Sejak Mei sudah tidak ada hujan, warga sudah mencari air bersih di sungai yang mengering dibuatlah sumur kecil demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka,” ujar Nur Cholis.
Sungai yang mengering, justru itu menjadi satu-satunya harapan. Karena di dekat sungai, warga menggali lubang kecil mirip dengan sumur hingga muncul rembesan air. Sumur itulah yang kini menjadi sumber kehidupan.
Untuk menuju sumur tersebut, mereka harus menempuh perjalanan yang tidak singkat. Warga Dukuh Joho harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga satu kilo meter. Beberapa diantaranya ada yang menggunakan motor untuk menempuh sumur tersebut, namun ada pula yang tetap memilih berjalan kaki sambil mengais jerigen di tangannya.
“Sangat bersyukur sekali, karena dengan adanya air bersih dari DMC itu sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk mencuci, mandi dan sebagainya,” kata salah seorang warga.

3 hours ago
9
















































