Oleh: St. Rachma Atien*)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat publik. Pemicunya adalah pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti yang mengungkapkan, sekitar 43 juta murid di seluruh Indonesia menerima manfaat MBG. Dan, sebagian besar dari mereka menginginkan program ini terus berlanjut. Menurutnya lagi, para siswa merasakan manfaat nyata MBG terhadap peningkatan kehadiran, motivasi belajar, hingga prestasi akademik di sekolah.
Hasil survei Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI tentang Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) yang dilaksakanan pertengahan hingga akhir 2025 menunjukan program MBG berpengaruh positif dalam mengurangi gangguan konsentrasi akibat lapar dan peningkatan fokus murid.
Sementara itu, Survei Indikator Politik yang digelar Januari 2026 menunjukan 72,8 persen publik puas dengan program MBG, dengan dukungan terkuat dari Gen Z (80,7 persen).
Adapun survei Poltracking Indonesia yang dilaksanakan 11-17 Mei 2026 mengungkapkan sebanyak 51,9 persen masyarakat menginginkan program MBG dilanjutkan.
Hasil suvei tersebut tidak boleh dibaca sekadar sebagai deretan angka statistik belaka. Di balik angka 43 juta siswa, terdapat pesan kemanusiaan: kebutuhan pangan dasar anak-anak Indonesia masih memerlukan perhatian serius pemerintah.
Ketika program pemenuhan gizi mendapat sambutan luar biasa dari peserta didik, ini membuktikan bahwa sekolah kini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang perlindungan sosial dan pemenuhan hajat hidup mendasar.
Fondasi kesiapan belajar
Mengacu pandangan Abraham Maslow (1943), kebutuhan fisiologis seperti makanan dan minuman merupakan kebutuhan paling dasar. Sehingga harus terpenuhi sebelum seseorang dapat melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk belajar dan berprestasi. Rasanya sulit membayangkan seorang anak dapat berkonsentrasi menyerap pelajaran di kelas apabila ia datang ke sekolah dengan perut kosong dan menahan lapar.
Bagi anak-anak dari keluarga miskin yang berpendapatan rendah, sepiring makanan bergizi di sekolah adalah jaminan mutlak bahwa mereka mendapatkan asupan nutrisi layak setiap hari. Program ini tidak sekadar meredam rasa lapar, tetapi menghadirkan rasa aman dan ketenangan batin selama proses belajar mengajar berlangsung.
Berbagai riset global pun mengonfirmasi urgensi ini. Laporan World Food Programme (2024) menegaskan, program pemberian makanan di sekolah terbukti efektif menaikkan angka kehadiran, memperbaiki konsentrasi, dan mendongkrak hasil belajar.
Laporan UNESCO (2025) juga menyatakan, perbaikan gizi dan ketahanan pangan berkontribusi besar pada keberlanjutan pendidikan anak di berbagai belahan dunia.
Di ranah domestik, studi Rahmah dkk. (2025) menemukan korelasi positif antara program MBG dengan tingkat kehadiran serta fokus siswa di kelas. Sementara itu, hasil penelitian Widyasari dkk. (2025) dalam risetnya menunjukkan, program ini sangat potensial dalam menekan angka stunting dan anemia yang selama ini membayangi performa akademik anak-anak muda.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

8 hours ago
10
















































