Membedah Kebuntuan Narasi: Mengapa Edukasi Lingkungan Saja tidak Cukup?

2 hours ago 4

Image AZIZUL RAHMAN

Eduaksi | 2026-02-14 21:58:27

Sebagai akademisi di bidang Komunikasi Lingkungan, saya menyadari bahwa krisis iklim bukan sekadar masalah sains atmosfer atau kegagalan kebijakan ekonomi. Ini adalah krisis komunikasi. Kita terjebak dalam pola pikir bahwa menyajikan data ilmiah yang menakutkan secara otomatis akan mengubah perilaku manusia. Kenyataannya? Data seringkali hanya berakhir menjadi deretan angka yang lewat begitu saja di beranda media sosial.

sumber : Freepict

1. Jebakan "Information Overload"

Masalah utama kita saat ini bukanlah kurangnya informasi, melainkan bagaimana informasi itu dikemas. Kita dibombardir dengan istilah "emisi karbon," "kenaikan suhu global" hingga "kerusakan biodiversitas." Bagi masyarakat awam, istilah-istilah ini bersifat abstrak dan jauh dari urusan dapur mereka.

Dalam perspektif komunikasi, informasi yang terlalu teknis dan penuh nada apokaliptik (kiamat) justru sering memicu mekanisme pertahanan diri berupa apatisme atau penolakan. Orang merasa kecil dan tidak berdaya, sehingga memilih untuk tidak peduli sekalian.

2. Membangun Jembatan antara Sains dan Empati

Tugas kita sebagai komunikator baik dosen, aktivis, maupun pembuat kebijakan—adalah menerjemahkan bahasa sains menjadi narasi kemanusiaan. Jangan hanya bicara soal mencairnya es di kutub; bicaralah tentang bagaimana kenaikan air laut akan menggenangi warung-warung di pesisir kita. Jangan hanya bicara soal polusi udara dalam partikel; bicaralah tentang hak anak-anak kita untuk bernapas tanpa sesak. Komunikasi lingkungan yang efektif harus mampu menyentuh aspek nilai (values) dan identitas. Kita perlu mengubah narasi dari "menyelamatkan bumi" (seolah-olah bumi adalah objek luar) menjadi "menyelamatkan rumah dan diri kita sendiri."

3. Peran Strategis Akademisi dan Media

Sebagai pendidik, saya melihat kampus harus menjadi laboratorium narasi. Kita tidak boleh lagi asyik dengan jurnal yang hanya dibaca segelintir orang. Kita punya tanggung jawab moral untuk: Melawan Hoaks Hijau (Greenwashing): Mengedukasi publik agar kritis terhadap klaim ramah lingkungan palsu dari korporasi. Mendorong Komunikasi Partisipatif: Mendengar suara masyarakat lokal yang seringkali memiliki kearifan tradisional dalam menjaga alam, namun suaranya tenggelam oleh diskursus modern.

Komunikasi lingkungan bukanlah tentang memenangkan argumen, melainkan tentang menggerakkan perubahan. Kita butuh narasi yang menawarkan harapan dan solusi konkret, bukan sekadar ketakutan.

Perubahan besar tidak dimulai dari satu orang yang melakukan hidup nol sampah (zero waste) secara sempurna, melainkan dari jutaan orang yang melakukannya dengan tidak sempurna namun konsisten, didukung oleh kebijakan sistemik yang berpihak pada alam.

Sudah saatnya kita berhenti sekadar "berbicara tentang lingkungan" dan mulai "berkomunikasi untuk lingkungan." Karena pada akhirnya, komunikasi adalah oksigen bagi setiap gerakan perubahan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |