Masuk Kampus Itu Mudah, Bertahan dan Siap Kerjanya yang Sulit

23 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG - Banyak mahasiswa di Karawang mengira tantangan terbesar kuliah adalah saat proses ujian penerimaannya. Padahal, realitas di lapangan berkata lain.

Setelah resmi menjadi mahasiswa, ujian sesungguhnya dimulai mampu bertahan, berkembang, dan lulus dengan bekal yang relevan untuk masuk dunia kerja. Di sinilah pilihan kampus memainkan peran yang sangat menentukan masa depan.

Cerita tentang mahasiswa yang berhenti di tengah jalan bukan hal asing. Faktor biaya, sistem perkuliahan yang kaku, hingga materi yang terasa jauh dari kebutuhan industri sering menjadi penyebabnya. Orang tua pun kerap diliputi kekhawatiran yang sama, apakah anaknya benar-benar siap menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti?

Seorang mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang, Andika, mengungkapkan kegelisahan yang dulu ia rasakan. “Awalnya saya takut salah pilih kampus. Saya ingin kuliah yang realistis, ilmunya bisa langsung dipakai,” katanya, lewat pesan WhatsApp, Selasa (3/2/2026).

Perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk tidak berjalan di tempat. Kampus yang adaptif bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga membangun kebiasaan berpikir kritis, kolaboratif, dan terbiasa dengan ekosistem digital yang terus berubah.

Menurutnya, di UBSI kampus Karawang, pendekatan pembelajaran diarahkan agar mahasiswa memahami konteks industri sejak dini. “Program studi disusun agar tidak terlepas dari praktik dan kebutuhan lapangan, termasuk di bidang teknologi informasi dan komputasi yang kini menjadi fondasi banyak sektor kerja. Kuliah di UBSI pilihan tepat buat saya,” kata dia.

Kepala Kampus UBSI kampus Karawang, Hasan Basri menegaskan bahwa orientasi kampus bukan sekadar meluluskan mahasiswa. “Perguruan tinggi hari ini harus menjadi ruang tumbuh. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan adaptasi, logika berpikir, dan keberanian menghadapi perubahan, bukan hanya teori di ruang kelas,” ujarnya.

Pendekatan ini terasa nyata pada program studi seperti Informatika, yang tidak hanya membahas konsep teknis, namun juga membiasakan mahasiswa berpikir sistematis, menyelesaikan masalah, dan memahami ritme dunia digital yang sesungguhnya. Bagi banyak mahasiswa, pengalaman belajar seperti ini menjadi jembatan antara bangku kuliah dan realitas profesional.

Kuliah sejatinya adalah proses pembentukan karakter. Ketekunan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi menjadi bekal penting yang tidak tercantum di ijazah, namun justru paling dicari oleh industri.

Pada akhirnya, memilih kampus bukan keputusan singkat. Ini tentang menentukan arah hidup beberapa tahun ke depan. “Bagi generasi muda Karawang, memilih tempat kuliah yang tepat berarti memberi kesempatan lebih besar untuk bertahan, lulus tepat waktu, dan melangkah mantap menuju masa depan. Kesempatan itu ada, asalkan tidak ditunda,” kata Hasan.

Read Entire Article
Politics | | | |