REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam sebuah taklimat yang dihadiri hampir seluruh elemen pelaksana pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto melontarkan satu seruan penting yang melampaui sekadar arahan birokratis. Ia memperkenalkan Gerakan Indonesia ASRI, sebuah ajakan kolektif untuk membangun lingkungan hidup yang aman, sehat, bersih, dan indah, bukan hanya oleh negara, tetapi bersama masyarakat.
Tim Pakar Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Isra Ramli, menjelaskan bahwa pemilihan forum taklimat itu bukan tanpa alasan. Acara tersebut dihadiri oleh spektrum eksekutif yang sangat lengkap: 38 gubernur, lebih dari 500 bupati dan wali kota, unsur TNI, Polri, Kejaksaan, hingga BUMN. Seluruh mesin pemerintahan, dari pusat hingga daerah, hadir dalam satu ruang.
“Jadi segenap unsur eksekutif dihadirkan pada taklimat itu,” kata Isra Ramli. “Bukan hanya untuk mendengar pandangan Presiden tentang perkembangan dunia, ekonomi, politik, dan geopolitik, tetapi juga untuk menerima satu seruan konkret agar pemerintah mulai menggerakkan partisipasi masyarakat,” kata Isra kepada Republika pada Sabtu (7/2/2026)
Di titik inilah Indonesia ASRI ditempatkan. Bukan sebagai proyek administratif semata, melainkan sebagai gerakan sosial. Presiden, menurut Isra Ramli, ingin transformasi tidak berhenti di ruang rapat, tetapi menyentuh kehidupan sehari-hari warga.
“Indonesia ASRI ini adalah sebuah gerakan yang diharapkan melibatkan masyarakat sebagai motor utama untuk mewujudkan lingkungan hidup yang layak dan bermartabat untuk kita tinggali bersama,” ujarnya.
Empat Dimensi ASRI
Gerakan Indonesia ASRI dirumuskan dalam empat dimensi sederhana namun fundamental. Aman, Sehat, Resik (bersih), dan Indah. Keempatnya bukan jargon abstrak, melainkan diterjemahkan secara praktis agar mudah dijalankan oleh siapa pun.
Langkah awalnya sangat konkret: pembersihan sampah di lingkungan masing-masing. Presiden bahkan memberi contoh langsung lewat pembersihan sampah di pantai-pantai Bali. Bagi pemerintah, ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi daerah.
“Sulit kita berharap para wisatawan mau hadir di Bali apabila pantai-pantainya kotor,” kata Isra Ramli, menegaskan kaitan langsung antara lingkungan hidup dan potensi pariwisata nasional.

2 hours ago
2














































