REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Transformasi digital kian membentuk wajah perekonomian nasional. Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI), penguatan literasi dinilai menjadi fondasi penting agar sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga pelaku dalam ekonomi digital.
Menjawab tantangan tersebut, Dicoding bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) meluncurkan platform pembelajaran daring “Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI”. Platform ini disiapkan sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat untuk memahami AI secara aman, etis, dan produktif.
Platform yang dapat diakses gratis itu menyasar anak, guru, hingga orang tua. Formatnya microlearning dan massive open online course (MOOC), sehingga materi bisa dipelajari bertahap dan fleksibel.
Chief Executive Officer Dicoding, Narenda Wicaksono, mengatakan penguatan literasi AI merupakan bagian dari upaya menyiapkan talenta digital nasional. Menurut dia, masyarakat perlu memahami bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga dampaknya terhadap produktivitas dan ekonomi.
“Melalui ruang belajar digital ini, kami berfokus memperkuat fondasi literasi digital dan AI. Harapannya, masyarakat sadar menavigasi dunia digital dan AI secara aman, etis, dan bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (19/2/2026).
Data Survei APJII 2025 menunjukkan tingkat adopsi AI di Indonesia terus meningkat, dengan Gen Z dan milenial menjadi pengguna terbesar, mencapai 66 persen. Angka ini mencerminkan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital, sekaligus risiko jika tidak dibarengi pemahaman yang memadai.
Menteri Koordinator PMK Pratikno menegaskan AI dapat menjadi motor produktivitas dan inovasi. Namun, tanpa kebijaksanaan dan kecakapan digital, teknologi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif.
“Penggunaan AI itu penting. Tetapi kalau tidak bijak dan tidak cerdas, justru bisa banyak efek negatifnya. Karena itu, kami meluncurkan platform ini agar anak-anak, remaja, dan orang tua bisa cerdas berdigital dan ber-AI,” katanya.
Platform Bijak Cerdas juga dilengkapi fitur Cek Kesehatan Digital (CKD) untuk mengukur kecakapan, keamanan, dan etika digital pengguna. Materi disajikan dalam bentuk video, kuis, serta refleksi, sehingga proses belajar lebih interaktif.
Ke depan, kolaborasi pemerintah dan industri ini akan diperluas melalui sosialisasi ke sekolah dan komunitas. Harapannya, literasi AI tidak berhenti pada pengetahuan dasar, tetapi mendorong lahirnya SDM yang adaptif, produktif, dan siap bersaing di era ekonomi digital.

3 hours ago
6















































