KNEKS Ungkap PR Besar Industri Keuangan Syariah

1 hour ago 4

Karyawan memperhatikan layar tablet yang menampilkan data kinerja PT Bank BCA Syariah di Jakarta, Selasa (10/2/2026). PT Bank BCA Syariah tumbuh solid sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut tercermin dalam peningkatan asset yang mencapai 15,4 persen year on year menjadi Rp19,2 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Skala industri dan kedalaman pasar menjadi faktor penentu daya saing ekonomi syariah Indonesia di tengah persaingan global. Tanpa pembesaran aset dan perluasan pasar, potensi besar populasi Muslim belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama.

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat mengatakan, fokus utama saat ini adalah mempercepat implementasi Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (MEKSI) serta memperluas dampaknya ke sektor riil.

“Yang paling konkret adalah akselerasi implementasi MEKSI, peningkatan inklusi (bukan cuma literasi), penguatan halal value chain, dan pendalaman pasar keuangan syariah. Jadi progresnya bisa diukur dari market share, pembiayaan sektor riil, dan dampaknya ke UMKM & industri halal,” ujar Emir kepada Republika, Rabu (18/2/2026).

Emir mengatakan, ekonomi syariah telah masuk dalam berbagai dokumen perencanaan nasional, mulai dari RPJPN hingga MEKSI 2025–2029. Namun, tanpa peningkatan skala industri, daya saing sulit diperkuat.

Data State of the Global Islamic Economy 2024/2025 menunjukkan belanja konsumen Muslim global mencapai 2,43 triliun dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 3,36 triliun dolar AS pada 2028. Aset keuangan syariah global juga telah mencapai 4,93 triliun dolar AS dan diperkirakan tumbuh menjadi 7,53 triliun dolar AS dalam lima tahun ke depan.

Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga Global Islamic Economy Indicator, di bawah Malaysia dan Arab Saudi. Posisi ini menunjukkan fondasi industri cukup kuat, tetapi belum menjadi pemimpin global.

Emir mengatakan, salah satu tantangan di dalam negeri adalah persepsi harga layanan keuangan syariah yang dinilai lebih mahal dibandingkan perbankan konvensional. “Persepsi bank syariah lebih mahal sedang terus dibenahi. Industri sekarang fokus ke efisiensi, digitalisasi dan inovasi produk supaya lebih kompetitif. Dengan skala yang makin besar & model bisnis yang makin matang, pricing ke depan akan makin bersaing,” kata Emir.

Emir mengatakan, pembesaran aset dan efisiensi menjadi syarat agar industri keuangan syariah mampu bersaing secara terbuka dan memperluas kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Read Entire Article
Politics | | | |