Kinerja Ekspor dan Konsumsi Jadi Penopang Ekonomi 2025

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen, dengan angka pertumbuhan kuartal IV sebesar 5,39 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penguatan ekspor, belanja pemerintah, serta lonjakan konsumsi saat libur akhir tahun menjadi penopang utama kinerja tersebut.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, faktor eksternal dan internal sama-sama berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyoroti peningkatan ekspor Indonesia ke sejumlah kawasan sepanjang 2025.

“Kalau kita perhatikan sepanjang 2025, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) mengalami peningkatan. Selain ekspor ke AS, ekspor ke kawasan ASEAN juga mengalami peningkatan,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Amalia menjelaskan, ekspor barang dan jasa memberikan kontribusi sebesar 0,82 persen pada kuartal IV 2025. Komoditas utama berasal dari kelompok nonmigas, terutama lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral khususnya batu bara, serta besi dan baja yang sama-sama mencatat kenaikan. “Ini kelompok barang ekspor nonmigas yang memang porsinya besar terhadap ekspor nonmigas Indonesia,” lanjut Amalia.

Selain ekspor, konsumsi pemerintah turut memberi andil terhadap pertumbuhan ekonomi. Amalia mencatat konsumsi pemerintah sepanjang 2025 menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,19 persen dari total pertumbuhan 5,11 persen.

“Jadi tentunya pengeluaran pemerintah pasti memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi,” sambung Amalia.

Ia menjelaskan peningkatan konsumsi pemerintah lazim terjadi pada kuartal akhir tahun. Pada kuartal IV 2025, konsumsi pemerintah melonjak 37,68 persen, terutama dipicu kenaikan realisasi belanja barang dan jasa. “Ini utamanya disebabkan peningkatan realisasi belanja barang dan jasa,” ucap Amalia.

Amalia juga menyinggung penempatan dana pemerintah ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang berpotensi mendorong aktivitas ekonomi. Menurut dia, dana tersebut ketika tersalurkan menjadi kredit akan menggerakkan sektor riil.

“Jadi semua catatan aktivitas ekonomi ini kami kumpulkan datanya. Begitu dia nanti tersalurkan menjadi aktivitas di sektor riil, pastinya sudah termasuk dalam catatan PDB kami,” ucap Amalia.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta paket stimulus pemerintah memberi dorongan signifikan pada kuartal IV 2025. Amalia mencatat sektor akomodasi, makanan-minuman, serta transportasi tumbuh seiring peningkatan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 13,42 persen secara tahunan.

“Kalau kita lihat pada kuartal IV 2025 dan juga sepanjang 2025, provinsi seperti Bali, NTB, dan DIY ini menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi untuk sektor-sektor tersebut,” kata Amalia.

Read Entire Article
Politics | | | |