Petani memasang lampu untuk menandai sawah beraliran listrik di Indramayu, Jawa Barat, Jumat (16/1/2026). Meski adanya imbauan untuk tidak menggunakan listrik sebagai jebakan tikus, petani di daerah tersebut terpaksa tetap memasang aliran listrik karena dianggap lebih efektif guna mengatasi serangan hama tikus yang merusak tanaman padi milik mereka.
REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Musim kemarau saat ini telah menyebabkan kekeringan pada areal tanaman padi di Kabupaten Indramayu. Sebanyak 10.673 hektare areal tanaman padi di daerah lumbung pangan nasional itu terancam puso (gagal panen) akibat kekeringan.
Kondisi itu membuat para petani khawatir. Jika pasokan air tidak segera dialirkan ke sawah-sawah mereka, ancaman gagal panen tinggal menunggu waktu. Kondisi tersebut diperkirakan akan menurunkan produksi padi daerah secara signifikan.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menyebutkan areal tanaman padi seluas 10.673 hektare yang terancam puso itu tersebar di enam kecamatan di wilayah Indramayu barat, yakni Kecamatan Sukra, Patrol, Anjatan, Bongas, Gabuswetan, dan Kandanghaur.
"Areal terdampak kekeringan yang paling luas ada di Kecamatan Sukra," ujar Sutatang kepada Republika, Selasa (21/7/2026).
Ia merinci, dari total areal sawah seluas 3.445 hektare di Kecamatan Sukra, yang terdampak kekeringan mencapai 2.500 hektare. Selanjutnya, di Kecamatan Patrol, dari luas areal sawah 3.175 hektare, sebanyak 2.100 hektare terdampak kekeringan. Adapun di Kecamatan Anjatan, dari total areal sawah 6.150 hektare, sebanyak 2.000 hektare terdampak kekeringan.
Sementara itu, di Kecamatan Bongas, dari total areal sawah seluas 5.000 hektare, sebanyak 500 hektare terdampak kekeringan. Di Kecamatan Gabuswetan, dari total luas sawah 6.740 hektare, sebanyak 1.573 hektare terdampak kekeringan. Sedangkan di Kecamatan Kandanghaur, dari total areal sawah seluas 5.400 hektare, sebanyak 2.000 hektare kini mengering.

6 hours ago
8















































