Jejak Sowan Gus Salam Menjemput Restu Ulama Jelang Muktamar ke-35 NU

4 hours ago 7

loading...

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam terus memperkuat komunikasi dengan para ulama, pengasuh pesantren, serta struktur NU di berbagai wilayah Indonesia. Foto/istimewa

JOMBANG - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) , KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam terus memperkuat komunikasi dengan para ulama, pengasuh pesantren, serta struktur NU di berbagai wilayah Indonesia.

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, itu menempuh jalur silaturahmi dan sowan sebagai bagian dari ikhtiar menuju pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.

Bagi Gus Salam, langkah ini merupakan bagian dari tradisi pesantren yang menempatkan nasihat kiai sebagai pijakan sebelum mengambil keputusan besar. Gus Salam memilih mendatangi para ulama di berbagai daerah untuk mendengar pandangan, menerima doa, serta memahami persoalan yang dihadapi warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.

“Maju bukan untuk jabatan, tetapi untuk khidmah,” ujar Gus Salam, Rabu (19/8/2026).

Baca juga: Gus Lilur Minta Jangan Bawa-bawa Nama Presiden untuk Intervensi Muktamar NU

Perjalanan silaturahmi Gus Salam dimulai dari lingkungan pesantren yang memiliki hubungan historis dengan perjalanan Nahdlatul Ulama. Salah satu dukungan penting datang dari keluarga besar Bani Bishri Syansuri.

Dalam pertemuan keluarga di ndalem kasepuhan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Gus Salam memperoleh izin dan restu untuk melanjutkan ikhtiar maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Restu tersebut memiliki arti khusus karena KH. Bishri Syansuri merupakan salah satu pendiri NU sekaligus tokoh penting dalam sejarah pesantren di Indonesia. Keluarga besar Bani Bishri menyampaikan pesan agar Gus Salam menjaga amanah, meneladani perjuangan para pendiri NU, serta menjadikan pengabdian kepada umat sebagai orientasi utama.

Lihat video: Satu Abad NU, PBNU Gelar Puncak Harlah di Istora Senayan

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Nyai Hj. Muflichah Shohib, menyampaikan bahwa restu dari keluarga merupakan bentuk amanah untuk meneruskan nilai perjuangan para muassis NU. “Ini bukan sekadar restu, tetapi amanah untuk menjaga NU, menjaga ideologi, tradisi, dan umat,” ujarnya.

Setelah dari lingkungan keluarga besar Denanyar, Gus Salam melanjutkan komunikasi dengan jaringan pesantren lain, termasuk para kiai di Pondok Pesantren Lirboyo dan Al-Falah Ploso, Kediri. Hubungan kedekatan dengan para pengasuh pesantren tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Gus Salam dalam lingkungan pendidikan pesantren dan organisasi NU.

Jejak silaturahmi Gus Salam kemudian meluas ke berbagai wilayah. Di Jawa Timur, ia menemui sejumlah ulama sepuh seperti KH. Anwar Manshur Lirboyo, KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo, KH. Kholil As’ad Situbondo, KH. Fuad Nurhasan Sidogiri, KH. Miftachul Akhyar, serta KH. Abdul Hannan Kediri.

Read Entire Article
Politics | | | |