Otentik Art
Khazanah | 2026-02-18 10:35:27
Istirahat siang sering menjadi ruang hening di tengah padatnya aktivitas. Di sela pekerjaan dan percakapan, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan pada diri sendiri: dalam setiap langkah hari ini, mana yang lebih kita utamakan—keuntungan atau integritas?
Zuhud dalam bermasyarakat bukan berarti menjauh dari dunia sosial, bukan pula menolak persaingan. Justru di tengah interaksi itulah nilai zuhud menemukan bentuk nyatanya. Ia hadir ketika seseorang memilih tetap jujur meski ada peluang untuk mengambil jalan pintas. Ia terlihat ketika seseorang menahan diri untuk tidak memanfaatkan celah yang bisa merugikan orang lain.
Seorang profesional muda berdiri tegap di tengah dinamika kantor modern, mencerminkan keteguhan prinsip dan integritas dalam menghadapi tekanan dunia kerja yang kompetitif.
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak memakan harta sesamanya dengan cara yang batil. Pesan ini bukan hanya tentang transaksi uang, tetapi tentang seluruh bentuk “pengambilan hak” yang tidak semestinya. Di kantor, bisa berupa klaim sepihak atas kerja tim. Di komunitas, bisa berupa memelintir informasi demi citra diri. Dalam pergaulan, bisa berupa menggunjing untuk menjatuhkan reputasi.
Kadang godaan itu datang dengan alasan yang tampak masuk akal: “Semua orang juga melakukannya.” Atau, “Kalau tidak begini, kita akan tertinggal.” Namun nilai seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia melesat, melainkan dari seberapa bersih ia melangkah.
Rasulullah pernah mengisyaratkan bahwa kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada keselamatan. Sebaliknya, kebohongan membuka jalan menuju kehancuran, meski awalnya tampak menguntungkan. Pesan ini relevan sepanjang zaman: keuntungan yang dibangun di atas kecurangan mungkin memberi hasil cepat, tetapi jarang memberi ketenangan.
Integritas sering kali tidak riuh. Ia sunyi. Ia tidak selalu menghasilkan pujian. Bahkan kadang membuat kita terlihat lambat dibanding yang lain. Tetapi orang yang menempatkan integritas di atas keuntungan tahu satu hal: keberkahan lebih bernilai daripada sekadar capaian angka.
Zuhud mengajarkan kita menahan diri—bukan karena tidak mampu, tetapi karena sadar ada yang lebih penting dari sekadar menang. Menolak ikut menggunjing, meski itu bisa membuat kita diterima dalam lingkaran. Menghindari adu domba, meski itu bisa menguntungkan posisi. Tidak mengambil yang bukan hak, meski peluangnya terbuka lebar.
Istirahat siang ini, mari berhenti sejenak. Lihat kembali langkah-langkah yang sudah kita ambil hari ini. Apakah semuanya bersih? Apakah ada kompromi kecil yang kita anggap wajar, padahal perlahan mengikis nilai diri?
Karena pada akhirnya, dunia mungkin mengukur kita dari hasil. Namun hidup yang bermakna diukur dari cara. Dan ketika integritas dijaga, meski keuntungan tertunda, jiwa tetap tenang.
Sebab yang kita cari bukan sekadar untung cepat, tetapi kebaikan yang bertahan lama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
2







































