Muhammad bima
Ekonomi Syariah | 2026-06-18 18:09:58
Emas dianggap sebagai investasi aman. Namun, di era FOMO, apakah membeli emas benar-benar untuk masa depan atau sekadar mengikuti tren?
Belakangan ini, investasi emas kembali menjadi perbincangan hangat. Harga yang cenderung meningkat dalam jangka panjang dan citranya sebagai aset yang aman membuat banyak orang tertarik untuk memilikinya. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang mulai menyisihkan uang saku atau gajinya untuk membeli emas secara rutin.
Di satu sisi, kebiasaan ini tentu patut diapresiasi. Menabung dan berinvestasi merupakan langkah yang lebih baik dibandingkan menghabiskan uang untuk konsumsi yang tidak perlu. Namun, di sisi lain, muncul fenomena yang menarik untuk dikaji: apakah semua orang membeli emas karena memahami manfaatnya, atau hanya karena takut tertinggal tren?
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat seseorang merasa harus mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Ketika media sosial dipenuhi cerita tentang keuntungan investasi emas dan unggahan saldo tabungan emas yang terus bertambah, banyak orang ikut membeli tanpa memahami tujuan maupun risiko investasinya.
Dalam perspektif Islam, memiliki harta bukanlah sesuatu yang dilarang. Justru Islam mendorong umatnya untuk bekerja dan mengelola harta secara baik. Namun, Islam juga mengingatkan agar harta tidak hanya disimpan dan ditumpuk tanpa memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.
Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan kepada orang-orang yang menimbun emas dan perak tanpa menginfakkannya di jalan yang benar. Pesan ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan pada kepemilikan emas, melainkan pada sikap terhadap harta tersebut. Ketika investasi hanya bertujuan untuk mengejar rasa aman berlebihan, pamer kekayaan, atau sekadar mengikuti tren, maka esensi pengelolaan harta dalam Islam dapat bergeser.
Di era digital, investasi sering kali dipandang sebagai perlombaan. Siapa yang memiliki emas paling banyak dianggap paling siap menghadapi masa depan. Padahal, ukuran keberhasilan dalam Islam tidak hanya dilihat dari seberapa besar aset yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana harta itu diperoleh, dikelola, dan dimanfaatkan.
Emas memang dapat menjadi instrumen investasi yang baik. Akan tetapi, keputusan untuk berinvestasi seharusnya lahir dari perencanaan keuangan yang matang, bukan karena tekanan sosial atau rasa takut tertinggal dari orang lain. Sebab, investasi yang sehat bukan hanya soal menambah kekayaan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu direnungkan bukanlah “berapa banyak emas yang sudah kita miliki?”, melainkan “apakah harta yang kita kumpulkan benar-benar membawa manfaat dan mendekatkan kita pada tujuan hidup yang lebih baik?”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
7








































