Hikmah Tatanan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Tengah Tantangan Zaman

3 hours ago 9

Image Fikri Rahman M

Ekonomi Syariah | 2026-07-14 00:40:03

Di tengah derasnya arus digitalisasi, gejolak ekonomi global, dan perubahan pola hidup masyarakat, pertanyaan mendasar yang patut diajukan bukan lagi bagaimana memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, melainkan bagaimana membangun sistem ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi semua. Ketika praktik spekulasi, budaya konsumtif, dan ketimpangan ekonomi semakin mengemuka, tatanan ekonomi dan keuangan syariah menawarkan perspektif yang tidak hanya relevan bagi umat Islam, tetapi juga bagi siapa pun yang menginginkan sistem ekonomi yang lebih beretika dan berkeadilan.

Optimisme terhadap ekonomi syariah sesungguhnya memiliki dasar yang kuat. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia meningkat menjadi 43,42 persen, meskipun tingkat inklusi keuangan syariah masih berada di angka 13,41 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mulai tumbuh, tetapi pemanfaatan layanan keuangan syariah masih memerlukan penguatan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya dengan memperbanyak produk, melainkan juga membangun kepercayaan dan pemahaman masyarakat.

Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hasyr ayat 7, "...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Ayat ini menegaskan bahwa distribusi kekayaan merupakan bagian dari tujuan syariat. Dengan demikian, ekonomi syariah tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas.

Potensi tersebut semakin diperkuat oleh berkembangnya industri halal, digitalisasi layanan keuangan syariah, serta meningkatnya perhatian pemerintah terhadap penguatan ekosistem ekonomi syariah. Laporan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah menunjukkan bahwa penguatan literasi dan inklusi tetap menjadi prioritas nasional karena keduanya menjadi fondasi bagi tumbuhnya ekosistem syariah yang sehat dan berkelanjutan. Artinya, keberhasilan ekonomi syariah tidak hanya diukur dari besarnya aset industri, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilainya dipahami dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, hikmah tatanan ekonomi dan keuangan syariah tidak berhenti pada persoalan halal atau haram dalam setiap transaksi. Hikmah yang sesungguhnya adalah menghadirkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan tanggung jawab moral. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, nilai-nilai tersebut justru menjadi fondasi bagi lahirnya sistem ekonomi yang tangguh sekaligus manusiawi.

Indonesia memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan solusi atas berbagai persoalan ekonomi modern. Ketika kejujuran menjadi budaya, keadilan menjadi orientasi, dan keberkahan menjadi tujuan, ekonomi tidak hanya menciptakan angka-angka pertumbuhan, tetapi juga melahirkan kesejahteraan yang lebih merata. Inilah hikmah terbesar dari tatanan ekonomi dan keuangan syariah: membangun peradaban ekonomi yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga kokoh secara moral.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |