Hadiah Doa bagi Ahli Kubur

9 hours ago 20

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bagi seorang Muslim, kematian bukanlah akhir dari hubungan dengan keluarga yang ditinggalkan. Doa, sedekah, dan amal saleh yang diniatkan untuk orang yang telah wafat diyakini tetap dapat menjadi hadiah yang bermanfaat bagi mereka. Bahkan, sejumlah riwayat yang dinukil para ulama menggambarkan doa dan sedekah itu sampai kepada ahli kubur sebagai hadiah yang membawa cahaya dan kelapangan.

Keyakinan mengenai sampainya pahala doa kepada orang yang telah meninggal memiliki landasan kuat dalam khazanah Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, seluruh amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis sahih riwayat Imam Muslim ini menjadi salah satu dasar utama bahwa doa dari anak maupun kaum Muslimin dapat memberikan manfaat bagi orang yang telah wafat.

Selain hadis-hadis sahih tersebut, Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (wafat 671 H) dalam kitab At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah juga menukil sebuah riwayat yang menggambarkan bagaimana hadiah berupa sedekah dan doa diterima oleh penghuni kubur.

Dalam riwayat itu disebutkan:

وَرَوَى أَبُو هُدْبَةَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ هُدْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّكَ لَتَصَدَّقُ عَنْ مَيِّتِكَ بِصَدَقَةٍ، فَيَجِيءُ بِهَا مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ فِي أَطْبَاقٍ مِنْ نُورٍ، فَيَقُومُ عَلَى رَأْسِ الْقَبْرِ، فَيُنَادِي: يَا صَاحِبَ الْقَبْرِ الْغَرِيبِ، أَهْلُكَ قَدْ أَهْدَوْا إِلَيْكَ هَذِهِ الْهَدِيَّةَ فَاقْبَلْهَا، فَيُدْخِلُهَا إِلَيْهِ فِي قَبْرِهِ، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي مَدَاخِلِهِ، وَيُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ، فَيَقُولُ: جَزَى اللَّهُ أَهْلِي عَنِّي خَيْرَ الْجَزَاءِ.

Wa rawā Abū Hudbah Ibrāhīm ibn Hudbah, qāla: ḥaddathanā Anas ibn Mālik raḍiyallāhu 'anhu, qāla: qāla Rasūlullāh ṣallallāhu 'alaihi wa sallam: Innaka lataṣaddaqu 'an mayyitika biṣadaqatin, fayajī'u bihā malakun minal-malā'ikati fī aṭbāqin min nūr, fayaqūmu 'alā ra'sil-qabri fayunādī: yā ṣāḥibal-qabril-gharīb, ahluka qad ahdaw ilaika hādhihil-hadiyyata faqbalhā. Fayudkhiluhā ilaihi fī qabrih, wayufsahu lahu fī madākhilih, wayunawwaru lahu fīh, fayaqūlu: jazallāhu ahlī 'annī khairal-jazā'.

Seseorang yang bersedekah atas nama orang yang telah meninggal, sedekah itu dibawa oleh malaikat di atas nampan cahaya. Malaikat kemudian menyeru penghuni kubur, "Wahai penghuni kubur yang asing, keluargamu telah mengirimkan hadiah ini kepadamu, maka terimalah." Setelah itu hadiah tersebut dimasukkan ke dalam kuburnya sehingga kuburnya menjadi lapang dan bercahaya. Penghuni kubur kemudian berdoa, "Semoga Allah membalas keluargaku dengan sebaik-baik balasan."

Al-Qurthubi menukil riwayat tersebut pada halaman 298–299 kitab At-Tadzkirah. Namun, para ulama hadis menjelaskan bahwa sanad riwayat ini melalui Abu Hudbah Ibrahim bin Hudbah yang dinilai lemah (dha'if), sehingga tidak termasuk hadis yang dapat dijadikan landasan hukum. Meski demikian, riwayat tersebut kerap dikutip dalam literatur targhib (motivasi beramal) untuk menggambarkan kemuliaan doa dan sedekah yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal.

Kisah Rabi'ah al-'Adawiyah

Gambaran serupa juga ditemukan dalam kisah yang dinukil al-Qurthubi dari Bisyir bin Ghalib mengenai sufi perempuan terkenal, Rabi'ah al-'Adawiyah.

Ia berkata:

وَقَالَ بِشْرُ بْنُ غَالِبٍ: رَأَيْتُ رَابِعَةَ الْعَدَوِيَّةَ فِي الْمَنَامِ، وَكُنْتُ كَثِيرَ الدُّعَاءِ لَهَا، فَقَالَتْ لِي: يَا بِشْرُ، هَدِيَّتُكَ تَأْتِينَا فِي أَطْبَاقٍ مِنْ نُورٍ عَلَيْهَا مَنَادِيلُ الْحَرِيرِ، وَهَكَذَا دُعَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْأَحْيَاءِ إِذَا دَعَوْا لِإِخْوَانِهِمُ الْمَوْتَى وَاسْتُجِيبَ لَهُمْ، يُقَالُ: هَذِهِ هَدِيَّةُ فُلَانٍ إِلَيْكَ.

Wa qāla Bisyru bin Ghālib: Ra'aitu Rābi'atal-'Adawiyyata fil-manām, wa kuntu katsīrad-du'ā'i lahā. Faqālat lī: yā Bisyru, hadiyyatuka ta'tīnā fī aṭbāqin min nūr, 'alaihā manādīlul-ḥarīr. Wa hakadhā du'ā'ul-mu'minīnal-aḥyā'i idzā da'aw li-ikhwānihimul-mawtā wastujība lahum, yuqālu: hādhihi hadiyyatu fulānin ilaik.

Bisyir bin Ghalib mengaku bermimpi bertemu Rabi'ah al-'Adawiyah. Dalam mimpi itu, Rabi'ah berkata bahwa doa-doa yang dikirimkan kepadanya datang dalam bentuk hadiah di atas nampan cahaya yang dilapisi kain sutra. Ketika doa seorang Mukmin dikabulkan Allah SWT untuk saudaranya yang telah meninggal, penghuni kubur itu diberi tahu bahwa hadiah tersebut berasal dari orang yang mendoakannya.

Read Entire Article
Politics | | | |