Warga beraktivitas di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (29/10/2024). Badan Meteorologi, Klimatologi dam Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak suhu panas di beberapa wilayah di Indonesia. Sementara untuk wilayah DKI Jakarta dan Banten suhu panas maksimum mencapai 34,6 hingga 34,9 derajat celcius. Warga diminta menggunakan alat kelindung kepala seperti payung, topi atau yang lainnya untuk menghindari paparan sinar Ultra Violet (UV) serta mengonsumsi air minum secara cukup dan teratur agar terhindar dari dehidrasi terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr Givo Alsepan, menjelaskan suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau merupakan fenomena alam yang dikenal sebagai bediding. Givo dalam keterangannya di Bogor, Rabu (22/7/2026), mengatakan fenomena bediding bukan dampak langsung perubahan iklim, melainkan bagian dari dinamika iklim musiman yang lazim terjadi pada periode Juni hingga September.
"Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Fenomena ini merupakan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi tersebut terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," katanya.
Ia menjelaskan, bediding dipicu oleh kombinasi sejumlah kondisi atmosfer yang umum terjadi pada musim kemarau. Salah satu penyebab utamanya adalah langit yang cenderung cerah pada malam hari sehingga panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.
Selain itu, udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan saat musim hujan. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer menyebabkan panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung lebih efektif.
"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.
Menurut Givo, fenomena tersebut lebih terasa di daerah pegunungan dan dataran tinggi karena dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi serta aliran udara dingin yang cenderung berkumpul di lembah. Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi tersebut bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Ia menambahkan, angin monsun Australia turut memperkuat fenomena bediding. Pada musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
sumber : ANTARA

4 hours ago
15















































