Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen, UMKM Justru Terjepit Biaya dan Daya Beli

2 hours ago 5

Foto udara suasana Pasar Rakyat Grebeg Besar Demak 2025 di Taman Parkir Tembiring Jogo Indah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (2/6/2025). Pasar hiburan rakyat yang buka pada sore hingga malam hari dari 26 Mei-16 Juni 2025 itu menawarkan pementasan musik, puluhan wahana permainan dengan menggandeng ratusan pelaku UMKM yang menjual berbagai produk fesyen, makanan dan minuman di Kabupaten Demak sebagai upaya Pemkab Demak menggerakkan perekonomian warga sekaligus sebagai ajang promosi pariwisata dalam rangkaian Tradisi Grebeg Besar Hari Raya Idul Adha 1446 H.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di kisaran 5 persen, tetapi kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah (SME). Mandiri Business Survey 2026 menunjukkan pelaku usaha masih menghadapi tekanan kenaikan biaya bahan baku dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat.

Survei Mandiri Institute terhadap 1.269 pemilik atau manajemen SME di 37 provinsi pada Juni-Juli 2026 menunjukkan omzet usaha masih meningkat, tetapi besaran pertumbuhannya melambat. Mayoritas pertumbuhan omzet kini berada di bawah 5 persen. Kondisi ini mencerminkan aktivitas usaha yang masih berjalan, tetapi belum menunjukkan akselerasi bisnis yang kuat.

Kondisi tersebut terjadi ketika ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Pertumbuhan semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 dapat berada di atas 5,34 persen.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan konsumsi masyarakat masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan Mandiri Spending Index (MSI), belanja masyarakat tumbuh 6,4 persen pada kuartal I 2026, 6,1 persen pada kuartal II, dan sekitar 6 persen pada kuartal III hingga 23 Agustus 2026.

“Jadi di kuartal 3 2026 kita masih melihat belanja masyarakat ini tetap resilient. Pertumbuhannya masih relatif stabil,” kata Dian dalam Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Kamis (3/9/2026).

Namun, ketahanan konsumsi tersebut tidak berarti seluruh kelompok masyarakat meningkatkan belanja secara sama. Pengeluaran semakin selektif dan lebih banyak diarahkan pada kebutuhan esensial.

Di tingkat SME, kondisi tersebut menjadi tekanan ketika berhadapan dengan kenaikan biaya produksi. Mandiri Business Survey menunjukkan 22,8 persen pelaku SME mengalami penurunan margin ketika harga bahan baku naik bersamaan dengan daya beli masyarakat yang lemah. Angka tersebut sekitar tiga kali lipat dibandingkan karakteristik usaha lainnya yang berada di kisaran 6–8 persen.

Survei tersebut menunjukkan kenaikan biaya bahan baku tidak mudah diteruskan kepada konsumen. Ketika daya beli melemah, ruang pelaku usaha untuk menaikkan harga jual menjadi terbatas. Akibatnya, margin dan omzet ikut tertekan.

Sektor perdagangan menjadi salah satu titik tekanan utama. Sebanyak 53 persen SME yang berada dalam kondisi terjepit tersebut berasal dari sektor perdagangan. Sebanyak 67 persen beban mereka berasal dari bahan baku, termasuk plastik.

Read Entire Article
Politics | | | |