Ilustrasi iblis.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Iblis disebut memiliki singgasana di atas laut yang dijadikan pusat untuk mengatur berbagai godaan terhadap manusia. Dari tempat itu, iblis mengirim bala tentaranya untuk menyesatkan dan menimbulkan fitnah di tengah kehidupan manusia.
Kisah tentang singgasana iblis tersebut disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim. Dalam hadis itu dijelaskan bahwa iblis memberikan kedudukan tinggi kepada setan yang paling berhasil menimbulkan kerusakan, terutama memisahkan hubungan suami dan istri.
Iblis dalam ajaran Islam merupakan makhluk yang awalnya memiliki kedudukan tinggi karena ibadahnya kepada Allah SWT. Namun kesombongannya membuat ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.
Karena pembangkangan itu, iblis diusir dari golongan makhluk mulia dan diturunkan ke bumi sebagai makhluk hina. Sejak saat itu, iblis bersumpah akan menyesatkan manusia agar menjadi penghuni neraka bersamanya.
Permintaan iblis untuk diberi umur panjang hingga hari kiamat diabadikan dalam Alquran surat Al-A’raf ayat 14-18. Dalam sejumlah riwayat dan penjelasan ulama, setelah berada di bumi iblis kemudian membangun singgasana di lautan dan mengatur berbagai tipu daya terhadap manusia.
Mufasir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa iblis mendapat penangguhan dari Allah SWT hingga datangnya hari kiamat. Selama itu pula ia terus menggoda manusia melalui pasukan-pasukannya.
Hadis tentang singgasana iblis dapat ditemukan dalam Shahih Muslim:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَا أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ
Haddatsanā Abū Kuraib Muhammad bin Al-‘Alā wa Ishāq bin Ibrāhīm wallafzhu li Abī Kuraib, qālā akhbaranā Abū Mu‘āwiyah, haddatsanā Al-A‘masy ‘an Abī Sufyān ‘an Jābir qāla, qāla Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Inna Iblīsa yadha‘u ‘arsyahu ‘alal mā’i tsumma yab‘atsu sarāyāhu, fa adnākum minhu manzilatan a‘zhamuhum fitnah. Yajīu ahaduhum fa yaqūlu fa‘altu kadzā wa kadzā, fa yaqūlu mā shana‘ta syaiā. Qāla tsumma yajīu ahaduhum fa yaqūlu mā taraktuhu hattā farraqtu bainahu wa baina imra`atihi. Qāla fayudnīhi minhu wa yaqūlu ni‘ma anta.” Qāla Al-A‘masy: urāhu qāla fayaltazimuhu.
“Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, lafaz ini milik Abu Kuraib, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengirim bala tentaranya. Kedudukan setan yang paling dekat dengan iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang datang lalu berkata: Aku telah melakukan ini dan itu. Iblis berkata: Engkau belum melakukan apa-apa. Kemudian datang yang lain dan berkata: Aku tidak meninggalkannya hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya. Nabi bersabda: Lalu iblis mendekatkannya dan berkata: Bagus, kamu.’” (HR Muslim).

10 hours ago
10

















































