Cara Negara Eropa Bertahan dari Krisis Energi Akibat Konflik AS-Iran

3 hours ago 9

Turis dan pelancong harian di Nieuwendijk di Amsterdam, Belanda, 23 Juli 2020. Pemerintah Belanda mengumumkan paket bantuan senilai hampir 1 miliar euro (sekitar Rp 20,2 triliun) untuk meredam dampak kenaikan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis akibat konflik di Timur Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Belanda mengumumkan paket bantuan senilai hampir 1 miliar euro (sekitar Rp 20,2 triliun) untuk meredam dampak kenaikan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis akibat konflik di Timur Tengah. Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, tunjangan perjalanan bebas pajak bagi karyawan akan naik 0,02 euro menjadi 0,25 euro (Rp 5.050) per kilometer dan berlaku surut sepanjang tahun, menurut laporan NOS pada Senin (20/4/2026).

Penyesuaian itu diperkirakan setara dengan penghematan sekitar 0,30 euro per liter bahan bakar.

Selain itu, pajak kendaraan bermotor untuk van berpelat nomor abu-abu yang umum digunakan usaha kecil akan dipangkas separuh mulai 1 Juli hingga akhir tahun.

Pajak truk juga akan diturunkan menjadi nol selama periode yang sama.

Untuk mendukung rumah tangga rentan, pemerintah Belanda mengalokasikan 195 juta euro untuk Dana Darurat Energi.

Tambahan 180 juta euro akan dialokasikan ke dana pemanasan nasional yang menyediakan pinjaman untuk isolasi rumah dan peningkatan efisiensi energi.

Pemerintah Belanda menyatakan lebih dari 600 juta euro dari paket tersebut berupa belanja langsung, sementara lebih dari 300 juta euro berasal dari pengurangan pajak.

Untuk membiayai kebijakan tersebut, cukai alkohol akan dinaikkan sejalan dengan inflasi tahun depan.

Meski ada desakan dari parlemen, pemerintah Belanda memilih untuk tidak mengintervensi harga BBM di SPBU karena dinilai mahal dan berdampak terbatas.

Para pejabat memperkirakan penurunan harga bahan bakar sebesar 0,10 euro (Rp 2.020) per liter akan membebani negara sekitar 1 miliar euro.

Parlemen Belanda dijadwalkan membahas usulan itu pada Rabu (22/4/2026) dan mayoritas anggota diperkirakan akan mendukungnya.

Pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu sejak AS-Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |