REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, menilai operasi penangkapan ikan sapu-sapu yang dilakukan Pemprov Jakarta perlu dilakukan juga dari hulu sungai. Pasalnya, pihaknya menemukan ikan sapu-sapu sudah merajai Sungai Ciliwung mulai dari hulu di wilayah Bogor.
"Jadi kegiatan physical extermination ini harus holistic di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Sebab jika musim hujan, anak-anak ikan sapu-sapu nanti akan masuk lagi ke hilir Sungai Ciliwung dari Bogor," kata dia kepada Republika, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, terdapat empat spesies ikan sapu-sapu yang saat ini berkembang di perairan Indonesia, termasuk di Jakarta dan sekitarnya. Empat spesies itu masing-masing adalah Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis), Vermiculated sailfin catfish (Pterygoplichthys disjunctivus), Suckermouth catfish (Hypostomus Plecostomus) dan Bristlenose catfishes (Ancistrus sp).
Menurut dia, ikan sapu-sapu hidup nyaman di air sungai yang bersih, namun juga di perairan yang tercemar bahan organik maupun nonorganik. Ia mengungkapkan, setidaknya terdapat empat alasan ikan sapu-sapu perlu dikendalikan.
Pertama, ikan sapu-sapu bersaing dengan ikan asli (native species) untuk mendapatkan makanan dan ruang/habitat. Kedua, berdasarkan hasil studi, ikan sapu-sapu menunjukkan preferensi yang kuat untuk mengonsumsi telur ikan asli (native species), yang dapat menyebabkan penurunan signifikan dalam keberhasilan reproduksi spesies asli.
Ketiga, kehadiran ikan sapu-sapu berkorelasi negatif dengan keanekaragaman ikan asli dan penurunan populasi ikan asli. Terakhir, ikan sapu-sapu menyebabkan kerusakan fisik pada ekosistem sungai dengan mengikis tepian sungai, membuat liang (lubang) untuk sarang, dan mengubah habitat bentik.
"Aktivitas ini menurunkan kualitas habitat bagi spesies asli dan mengganggu stabilitas ekosistem," kata dia.
Selain melakukan pengendalian, Charles menilai, Pemprov Jakarta juga perlu melakukan restorasi atau rehabilitasi sungai dan situ. Artinya, upaya jangka panjang yang perlu dilakukah membuat roadmap (peta jalan) restorasi dan atau rehabilitasi ekosistem sungai-sungai di Jakarta.
"Upaya ini harus melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders). Gerakan Cinta Sungai dan Situ di Jakarta dan sekitarnya harus segera dilaksanakan," kata dia.
Memanfaatkan Ikan Sapu-Sapu
Charles menjelaskan, ikan sapu-sapu di habitat alaminya di Sungai Amazon dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber protein hewani. Pasalnya, ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein berkisar antara 22.54-23.47 persen (moderate) dan lemak antara 3.42-5.49 persen (rendah). Artinya, ikan sapu-sapu sebenarnya bisa dikonsumsi sebagai sumber protein hewani.
"Namun, kita perlu pastikan bahwa ikan sapu-sapu berasal dari perairan yang tidak tercemar," kata dia.
Ia mengungkapkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu yang berasal dari Sungai Ciliwung mengandung beberapa logam berat yang berbahaya, seperti Pb, Cd dan Hg. Karena itu, diperlukan adanya penelitian yang lebih mendalam mengenai kandungan logam berat pada tubuh ikan sapu-sapu di sepanjang Sungai Ciliwung dan batas aman (safety thresholds) konsumsi ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung.
Ia menilai, ikan sapu-sapu yang berasal dari perairan yang terkontaminasi logam berat mungkin mengandung kadar logam yang cukup tinggi dalam jaringannya, terutama pada otot, yang merupakan bagian utama yang digunakan sebagai pakan ternak. Meskipun beberapa metode pengolahan dapat mengurangi konsentrasi logam berat, terdapat risiko bahwa ternak yang mengonsumsi pakan yang berasal dari ikan sapu-sapu dapat menumpuk logam berat dalam tubuhnya seiring waktu, terutama logam seperti Pb dan Cd.
"Karena itu, pemantauan yang cermat, penilaian risiko, dan penerapan strategi mitigasi yang efektif sangatlah penting sebelum menyetujui penggunaan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak," kata dia.
Berdasarkan hasil penelitian, menurut dia, penggunaan ikan sapu-sapu dari perairan yang terkontaminasi logam berat sebagai pupuk (POC-Pupuk Organik Cair) bagi tanaman konsumsi tidak disarankan tanpa melalui proses pengolahan yang memadai untuk menghilangkan logam berat. Mengingat risiko keamanan yang telah didokumentasikan dengan baik, kekhawatiran terkait bioakumulasi, serta potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
"Penggunaan tersebut baru dapat dianggap aman dan berkelanjutan setelah dilakukan remediasi yang efektif dan penilaian keamanan yang menyeluruh. Namun, pupuk organik cair yang berasal dari ikan sapu-sapu dapat dijadikan pupuk untuk tanaman hias atau tumbuhan lainnya yang tidak untuk dikonsumsi," kata dia.

4 hours ago
8

















































