Masum Al Achfa
Eduaksi | 2026-06-22 19:24:56
Pernahkah kita melihat anak kecil yang belum lancar membaca, tetapi sudah sangat mahir membuka YouTube? Atau anak yang belum sepenuhnya memahami dunia nyata, tetapi sudah terbiasa menggulir layar ponsel berjam-jam? Pemandangan seperti ini tidak lagi terasa asing. Di rumah, di tempat makan, di kendaraan umum, bahkan ketika berkumpul bersama keluarga, gawai sering kali hadir sebagai “teman dekat” bagi anak-anak masa kini.
Teknologi memang telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir sebagai alat komunikasi, sumber informasi, media hiburan, bahkan sarana belajar. Anak dapat mengenal huruf, angka, warna, lagu, cerita, dan berbagai pengetahuan baru melalui layar. Namun, di balik semua kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting yang tidak boleh diabaikan: apakah anak-anak benar-benar siap menghadapi dunia digital? Ataukah mereka hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi belum mampu memahami risiko yang menyertainya?
Pertanyaan ini penting karena anak-anak tidak hanya sedang menggunakan teknologi, tetapi juga sedang tumbuh di dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh teknologi. Moore (2019) menjelaskan bahwa anak-anak masa kini hidup dalam lingkungan yang sarat dengan teknologi, sehingga perilaku dan nilai-nilai mereka dapat dipengaruhi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kata lain, teknologi bukan hanya alat bantu, melainkan juga bagian dari ruang sosial yang ikut membentuk cara anak berpikir, bersikap, belajar, dan berinteraksi.
Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting. Anak tidak cukup hanya diajarkan cara memakai gawai. Mereka juga perlu dibimbing untuk memahami batasan, etika, keamanan, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Di era digital, orang tua tidak cukup hanya menjadi pengawas yang melarang dan membatasi. Orang tua perlu menjadi kompas yang membantu anak menemukan arah.
Anak-Anak yang Tumbuh Bersama Layar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI
Anak-anak masa kini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Jika dulu masa kecil lebih banyak diisi dengan bermain di halaman, berlari bersama teman, mendengar cerita langsung dari orang tua, atau berinteraksi secara tatap muka, kini sebagian pengalaman itu mulai bergeser ke ruang digital. Gawai menjadi pintu masuk anak untuk belajar, bermain, menonton, dan mengenal dunia luar.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan handphone, dan 24,96% di antaranya sudah mengakses internet. Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, penggunaan handphone pada anak usia 0–4 tahun mencapai 25,5%, sedangkan pada usia 5–6 tahun meningkat menjadi 52,76%. Sementara itu, akses internet pada kelompok usia 0–4 tahun sebesar 18,79%, dan pada usia 5–6 tahun mencapai 39,97%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi telah hadir dalam kehidupan anak sejak usia yang sangat dini. Hal ini tentu tidak bisa dipandang sederhana. Anak yang sejak kecil sudah akrab dengan gawai memang dapat terlihat lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Mereka dapat membuka aplikasi, memilih video, memainkan gim, atau mencari hiburan digital dengan mudah. Namun, kemampuan menggunakan perangkat tidak selalu sama dengan kemampuan memahami teknologi.
Ulfah (2020) menegaskan bahwa anggapan bahwa anak-anak sebagai “digital natives” atau penduduk asli digital tidak sepenuhnya tepat. Kemampuan anak dalam menggunakan teknologi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pendidikan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, serta sejauh mana anak memperoleh pendampingan dalam penggunaan media digital. Anak dari keluarga dengan akses dan pendampingan yang lebih baik cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik pula terhadap risiko penggunaan teknologi dibandingkan anak yang hanya dikenalkan pada perangkat digital sebagai hiburan.
Artinya, anak-anak mungkin terlihat mahir menggunakan gawai, tetapi belum tentu memiliki literasi digital yang memadai. Mereka mungkin tahu cara membuka aplikasi, tetapi belum tentu mampu membedakan konten yang layak dan tidak layak. Mereka mungkin dapat berkomunikasi secara online, tetapi belum tentu memahami etika berinteraksi di dunia maya. Mereka mungkin bisa menonton banyak hal, tetapi belum tentu mampu menyaring informasi yang benar dan salah.
Di sinilah pendampingan orang tua menjadi sangat diperlukan. Semakin dini anak mengenal teknologi, semakin besar pula kebutuhan mereka terhadap arahan, batasan, dan nilai-nilai yang membantu mereka menggunakan teknologi secara sehat.
Teknologi: Peluang yang Perlu Diarahkan
Teknologi tidak dapat langsung dianggap sebagai ancaman. Jika digunakan dengan tepat, teknologi justru dapat memberikan manfaat bagi perkembangan anak. Dalam konteks pendidikan, teknologi dapat membantu proses belajar menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami. Anak dapat belajar mengenal huruf, angka, warna, bahasa, dan berbagai konsep dasar melalui media digital yang menyenangkan.
Pemanfaatan teknologi seperti smartboard, Apple TV, printer 3D, aplikasi edukatif, dan media pembelajaran interaktif dapat mendorong anak untuk lebih aktif dalam belajar. Teknologi juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Melalui permainan edukatif atau media interaktif, anak dapat belajar menyelesaikan tantangan, menyusun strategi, berpikir kritis, dan mengejar tujuan secara sistematis.
Selain itu, teknologi juga dapat memperkenalkan anak pada keterampilan masa depan. Ketika anak dikenalkan pada teknologi secara tepat, mereka tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga dapat diarahkan menjadi pribadi yang kreatif. Anak dapat belajar membuat desain, musik, video edukatif, coding sederhana, atau karya digital lainnya. Kuntarto dan Prakash (2020) menjelaskan bahwa literasi digital pada anak penting untuk membantu mereka memahami, menggunakan, dan mengembangkan keterampilan digital secara lebih produktif.
Dengan demikian, teknologi sebenarnya dapat menjadi peluang besar bagi perkembangan anak. Namun, peluang tersebut hanya akan benar-benar bermanfaat jika penggunaannya diarahkan. Tanpa pendampingan, teknologi yang seharusnya menjadi sarana belajar dapat berubah menjadi sumber ketergantungan dan gangguan perkembangan.
Risiko di Balik Penggunaan Teknologi Tanpa Batas
Masalah mulai muncul ketika teknologi digunakan secara berlebihan, tanpa pengawasan, dan tanpa aturan yang jelas. Penggunaan gawai yang terlalu lama dapat berdampak pada berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari sosial, fisik, emosional, hingga akademik.
Salah satu dampak yang sering muncul adalah menurunnya interaksi sosial secara langsung. Anak yang terlalu sering menggunakan gawai dapat lebih nyaman berkomunikasi melalui layar dibandingkan bertemu langsung dengan orang lain. Mereka dapat lebih sering berinteraksi melalui media sosial, gim daring, atau pesan digital daripada bermain dan berbicara secara tatap muka. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, anak dapat kehilangan kesempatan untuk melatih keterampilan sosial, seperti membaca ekspresi wajah, memahami nada bicara, menyelesaikan konflik, dan membangun empati.
Istiyanto (2016) menjelaskan bahwa penggunaan telepon genggam dapat memengaruhi perubahan sosial anak, khususnya dalam cara mereka berinteraksi, berpikir, dan bersikap. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya memengaruhi kebiasaan anak, tetapi juga dapat membentuk pola hubungan sosial mereka.
Selain aspek sosial, penggunaan teknologi berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan fisik. Anak yang terlalu lama duduk di depan layar cenderung memiliki aktivitas fisik yang lebih rendah. Mereka menjadi kurang bergerak, jarang bermain di luar rumah, dan lebih sedikit melakukan aktivitas motorik. Kebiasaan seperti ini dapat memengaruhi pola hidup anak dan berisiko menimbulkan masalah kesehatan.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah terganggunya kualitas tidur. Waktu layar yang berlebihan, terutama pada malam hari, dapat mengganggu pola tidur anak. Paparan cahaya dari layar gawai dapat membuat anak lebih sulit tidur nyenyak. Padahal, tidur yang cukup sangat penting bagi pertumbuhan, konsentrasi, kemampuan belajar, dan kesehatan anak secara umum.
Rismala et al. (2021) menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang tidak diawasi dapat berdampak pada perkembangan sosial anak usia dini. Risiko yang mungkin muncul meliputi gangguan tidur, kecenderungan menyendiri, penurunan kreativitas, perilaku agresif, hingga kemungkinan menjadi korban cyberbullying. Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan teknologi pada anak bukan hanya soal durasi penggunaan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas pendampingan dan pengawasan dari orang tua.
Dilema Orang Tua di Era Digital
Menjadi orang tua di era digital bukan perkara mudah. Di satu sisi, orang tua ingin anak mengikuti perkembangan zaman. Mereka tidak ingin anak tertinggal dalam penggunaan teknologi, apalagi ketika teknologi juga digunakan dalam pendidikan. Namun, di sisi lain, orang tua juga khawatir terhadap dampak negatif yang dapat muncul jika anak terlalu bebas menggunakan gawai.
Dilema ini banyak dialami oleh orang tua. Apakah anak harus diawasi dengan ketat? Apakah anak boleh diberi kebebasan menggunakan internet? Apakah gawai harus dilarang sepenuhnya? Atau justru boleh digunakan selama anak merasa senang?
Kusumawardhani et al. (2024) menjelaskan bahwa banyak orang tua merasa berada dalam dilema antara mengawasi anak secara ketat atau membiarkan mereka mengakses teknologi secara bebas. Situasi ini menunjukkan bahwa orang tua membutuhkan pemahaman dan panduan yang tepat dalam menerapkan pengasuhan di era digital.
Tantangan lainnya adalah tidak semua orang tua memiliki literasi digital yang cukup. Ada orang tua yang memberikan gawai agar anak diam, tetapi tidak mengetahui konten apa yang sedang dikonsumsi anak. Ada pula orang tua yang melarang anak terlalu sering menggunakan ponsel, tetapi dirinya sendiri justru terus menggunakan gawai di depan anak. Hal ini dapat menimbulkan ketidakkonsistenan dalam pengasuhan.
Padahal, anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari contoh. Ketika orang tua meminta anak membatasi screen time, tetapi orang tua sendiri tidak bisa lepas dari ponsel, anak akan menangkap pesan yang bertentangan. Oleh karena itu, pengasuhan digital tidak cukup dilakukan melalui larangan, tetapi juga melalui keteladanan.
Asiyani et al. (2023) menjelaskan bahwa interaksi konstruktif antara orang tua dan anak berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Orang tua yang rutin berdiskusi mengenai nilai dan prinsip hidup dengan anak cenderung lebih berhasil dalam membentuk karakter positif. Dalam konteks era digital, diskusi ini dapat diarahkan pada bagaimana anak memahami teknologi, menggunakan media secara bijak, dan menjaga etika dalam kehidupan online.
Digital Parenting: Bukan Melarang, Melainkan Membimbing
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI
Solusi dari persoalan ini bukanlah menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Di era sekarang, hal tersebut hampir tidak mungkin dilakukan. Teknologi telah menjadi bagian dari pendidikan, komunikasi, hiburan, dan kehidupan sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua membimbing anak agar mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Digital parenting menjadi salah satu pendekatan penting dalam hal ini. Matakena dan Supratman (2022) menjelaskan bahwa digital parenting merupakan pendekatan yang membantu orang tua dalam mengatur penggunaan perangkat digital oleh anak. Pendekatan ini mencakup pengaturan durasi penggunaan, pendampingan saat anak menggunakan perangkat digital, dan penerapan aturan yang jelas mengenai penggunaan teknologi.
Namun, digital parenting tidak boleh dipahami hanya sebagai tindakan membatasi. Lebih dari itu, digital parenting adalah proses membangun kesadaran. Anak perlu diajak memahami alasan mengapa waktu layar perlu dibatasi, mengapa tidak semua konten boleh ditonton, mengapa data pribadi harus dijaga, dan mengapa etika tetap berlaku meskipun komunikasi dilakukan secara online.
Ulfah dan Na’imah (2020) menekankan bahwa orang tua perlu menyeimbangkan antara memberikan kebebasan kepada anak untuk menikmati kemajuan teknologi dan melindungi anak dari dampak negatif yang mungkin muncul. Keseimbangan ini penting agar anak tidak merasa teknologi sebagai sesuatu yang sepenuhnya dilarang, tetapi juga tidak menganggap teknologi sebagai ruang tanpa batas.
Selain itu, Merdekawati et al. (2021) menjelaskan bahwa digital parenting mencakup aturan penggunaan perangkat digital, baik online maupun offline, untuk melindungi anak dari potensi risiko penggunaan teknologi. Dengan demikian, tanggung jawab orang tua tidak hanya sebatas memberikan perangkat atau memasang larangan, tetapi juga memahami bagaimana teknologi memengaruhi perkembangan anak.
Literasi Digital Harus Dimulai dari Rumah
Salah satu strategi utama yang perlu diterapkan orang tua adalah menanamkan literasi digital. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan memahami, memilah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara etis.
Anak perlu diajarkan bahwa tidak semua informasi di internet benar. Mereka perlu memahami cara mengenali sumber yang dapat dipercaya, membedakan konten edukatif dan konten berbahaya, serta menjaga keamanan diri di dunia maya. Kholiq (2023), Kuntarto dan Prakash (2020), serta Takdir dan Fauziah (2024) menekankan bahwa literasi digital berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi secara etis, termasuk memahami informasi, menjaga data pribadi, dan membedakan konten yang dapat dipercaya.
Literasi digital juga berkaitan dengan etika berinteraksi di dunia maya. Anak perlu memahami bahwa sopan santun tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Ketika berkomentar, mengirim pesan, bermain gim online, atau menggunakan media sosial, anak tetap perlu menghormati orang lain.
Takdir dan Fauziah (2024) menjelaskan pentingnya membekali anak dengan etika digital, termasuk cara menghindari dan menghadapi cyberbullying. Hal ini penting karena dunia maya bukan ruang yang bebas dari konsekuensi. Perilaku anak di internet tetap dapat berdampak pada dirinya sendiri maupun orang lain.
Dengan membangun literasi digital sejak dini, anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi individu yang lebih sadar, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media digital.
Mengatur Durasi Layar dengan Bijak
Strategi berikutnya adalah mengatur durasi layar sesuai usia anak. Anak tidak seharusnya dibiarkan menggunakan gawai tanpa batas. Orang tua perlu membuat aturan yang jelas mengenai kapan anak boleh menggunakan perangkat digital, berapa lama durasinya, dan jenis konten apa yang boleh diakses.
Namun, membatasi penggunaan gawai tidak cukup jika tidak disertai dengan alternatif kegiatan. Anak yang hanya dilarang tanpa diberi pilihan aktivitas lain dapat merasa bahwa aturan tersebut hanya bentuk hukuman. Karena itu, orang tua perlu menyediakan kegiatan non-digital yang menarik, seperti membaca buku, menggambar, olahraga, bermain di luar rumah, membantu pekerjaan rumah, atau berbicara bersama keluarga.
Anggraini (2019) serta Efendi Hutagalung et al. (2024) menekankan pentingnya membatasi penggunaan gawai dan mengarahkan anak pada kegiatan lain agar tidak bergantung pada perangkat elektronik. Aktivitas fisik dan sosial secara langsung tetap diperlukan agar perkembangan anak berjalan seimbang.
Selain durasi, waktu penggunaan juga perlu diperhatikan. Penggunaan gawai menjelang tidur sebaiknya dibatasi karena dapat mengganggu kualitas tidur anak. Orang tua dapat membuat aturan sederhana, misalnya tidak menggunakan gawai saat makan bersama, tidak membawa gawai ke tempat tidur, dan memiliki waktu khusus untuk aktivitas keluarga tanpa layar.
Mengawasi Konten dan Membangun Komunikasi Terbuka
Pengawasan konten menjadi bagian penting dalam pengasuhan digital. Anak dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi melalui internet. Tidak semua konten sesuai dengan usia dan tahap perkembangan mereka. Karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang ditonton, dimainkan, dan diakses oleh anak.
Penggunaan fitur kontrol orang tua dapat membantu membatasi akses anak terhadap konten yang tidak sesuai. Namun, pengawasan terbaik tetap berasal dari komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Anak perlu merasa aman untuk bercerita jika menemukan hal yang membuatnya takut, bingung, atau tidak nyaman di internet.
Maysarah (2023) menjelaskan bahwa anak perlu dibekali pengetahuan tentang keamanan digital, seperti tidak membagikan data pribadi, menggunakan kata sandi yang aman, dan terbuka kepada orang tua jika menemui hal mencurigakan di internet. Artinya, pengawasan tidak cukup dilakukan secara teknis, tetapi juga perlu dibangun melalui kepercayaan.
Jika anak merasa bahwa setiap kesalahan akan langsung dimarahi, mereka mungkin memilih diam ketika menghadapi masalah di dunia maya. Sebaliknya, jika orang tua membangun komunikasi yang terbuka, anak akan lebih mudah meminta bantuan ketika menghadapi risiko digital seperti penipuan, konten tidak layak, atau perundungan siber.
Orang Tua sebagai Teladan Digital
Salah satu bagian paling penting dalam pengasuhan digital adalah keteladanan. Orang tua tidak cukup hanya membuat aturan untuk anak. Orang tua juga perlu menunjukkan bahwa aturan tersebut berlaku dalam kehidupan keluarga.
Jika anak diminta membatasi waktu layar, orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan menggunakan gawai secara sehat. Jika anak diminta tidak bermain ponsel saat makan, orang tua juga sebaiknya tidak sibuk dengan ponsel ketika makan bersama. Jika anak diajarkan untuk sopan di media sosial, orang tua juga perlu menunjukkan cara berkomunikasi digital yang santun.
Suhardoyo et al. (2023) menegaskan bahwa orang tua perlu menjadi contoh dalam penggunaan teknologi. Keteladanan ini penting karena anak lebih mudah meniru perilaku yang mereka lihat secara langsung daripada mengikuti nasihat yang tidak disertai contoh.
Keteladanan digital dapat dimulai dari hal sederhana, seperti meletakkan ponsel ketika berbicara dengan anak, tidak terlalu sering membuka media sosial saat bersama keluarga, menggunakan teknologi untuk hal produktif, dan menunjukkan bahwa hubungan nyata tetap lebih penting daripada layar.
Mengarahkan Anak Menjadi Pengguna Teknologi yang Kreatif
Selain membatasi dan mengawasi, orang tua juga perlu mengarahkan anak agar menggunakan teknologi secara kreatif. Anak tidak seharusnya hanya menjadi penonton atau pengguna pasif. Mereka dapat diarahkan untuk menggunakan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya.
Misalnya, anak dapat diajak membuat gambar digital, video edukatif, cerita sederhana, musik, presentasi, atau proyek kreatif lain sesuai usia dan minatnya. Dengan begitu, anak belajar bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat untuk mengembangkan kemampuan.
Kuntarto dan Prakash (2020) menekankan bahwa literasi digital pada anak dapat membantu mereka memahami penggunaan teknologi secara lebih bermakna. Ketika anak diarahkan untuk produktif, mereka akan lebih mudah melihat teknologi sebagai alat untuk belajar, bukan hanya sebagai sumber hiburan.
Hal ini penting karena masa depan anak akan semakin dekat dengan dunia digital. Anak yang sejak dini dibimbing untuk menggunakan teknologi secara kreatif akan lebih siap menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan tanggung jawab.
Kerja Sama Orang Tua dan Sekolah
Pengasuhan digital tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Sekolah juga memiliki peran penting dalam membangun literasi digital anak. Karena itu, orang tua dan sekolah perlu bekerja sama agar aturan, nilai, dan edukasi mengenai penggunaan teknologi dapat berjalan konsisten.
Suhardoyo et al. (2023) menjelaskan bahwa kerja sama dengan sekolah penting dalam menghadapi tantangan dunia digital. Sekolah dapat menjadi mitra orang tua dalam memberikan pendidikan literasi digital, keamanan internet, dan etika penggunaan teknologi.
Ketika anak mendapatkan arahan yang sama di rumah dan di sekolah, mereka akan lebih mudah memahami bahwa penggunaan teknologi yang sehat bukan sekadar aturan keluarga, tetapi bagian dari tanggung jawab sebagai individu di era digital.
Menjadi Kompas di Tengah Derasnya Arus Digital
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia dapat menjadi sarana belajar, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah. Ia dapat membuka wawasan anak, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan sosial, emosional, fisik, dan akademik jika digunakan secara berlebihan dan tanpa pendampingan.
Kunci utamanya bukan pada seberapa canggih perangkat yang digunakan anak, melainkan seberapa bijak orang tua mendampingi penggunaannya. Anak-anak tidak hanya membutuhkan akses internet. Mereka juga membutuhkan arahan. Mereka tidak hanya membutuhkan gawai. Mereka juga membutuhkan kehadiran orang tua yang benar-benar terlibat.
Mendidik anak di era digital bukan berarti menolak teknologi. Justru orang tua perlu memahami teknologi agar mampu membimbing anak dengan lebih tepat. Anak-anak hari ini akan tumbuh dalam dunia yang semakin digital, tetapi mereka tetap membutuhkan nilai, batasan, kasih sayang, komunikasi, dan keteladanan yang nyata.
Teknologi boleh semakin maju, tetapi arah perkembangan anak tetap dimulai dari rumah. Di tengah luasnya dunia digital, orang tua adalah kompas pertama yang membantu anak agar tidak kehilangan arah.
Rujukan yang Digunakan
Anggraini, E. (2019). Mengatasi kecanduan gadget pada anak. Serayu Publishing.
Asiyani, G., Asiah, S. N., & Hatuwe, O. S. R. (2023). Pengaruh hubungan orangtua dan anak dalam pembentukan karakter anak. Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies, 3(2), 61–72.
Efendi Hutagalung, J., Siregar, I. K., Yesputra, R., Efendi, B., & Saputra, E. (2024). Pelatihan penggunaan internet aman bagi anak-anak di era digital. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mitra Kreasi Cendekia, 2(1).
Istiyanto, S. B. (2016). Telepon genggam dan perubahan sosial: Studi kasus dampak negatif media komunikasi dan informasi bagi anak-anak di Kelurahan Bobosan Purwokerto Kabupaten Banyumas. Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 1(1), 58–63.
Kholiq, A. (2023). Peran etika digital dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di era teknologi. Sasana, 2(1), 71–76.
Kuntarto, H. B., & Prakash, A. (2020). Digital literacy among children in elementary schools. Diakom: Jurnal Media dan Komunikasi, 3(2), 157–170.
Kusumawardhani, A., Segara, A. A., & Supriadi, W. (2024). Peran orang tua dalam pengawasan penggunaan internet pada anak. Jurnal Abdikarya, 3(3), 234.
Matakena, S. F., & Supratman, L. P. (2022). Peran orang tua dalam pembatasan penggunaan gadget anak usia sekolah dasar di Kabupaten Indramayu. SEIKO: Journal of Management & Business, 5(1), 649–669.
Maysarah. (2023). Pentingnya edukasi anti-bullying pada anak sejak dini di panti. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sosial dan Humaniora, 2(1), 9–15.
Merdekawati, A., Dhiana, A. S., Kumalasari, J. T., Sugeng, I. S., & Lestari, S. W. (2021). Pelatihan parenting melalui pemanfaatan internet sehat sebagai upaya mengurangi kecanduan internet. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Radis, 1(3), 233–239.
Moore, C. (2019). Teaching digital natives: Partnering for real learning. International Journal for Educational Integrity, 6.
Rismala, Y., Aguswan, Priyantoro, D. E., & Suryadi. (2021). Dampak penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial anak usia dini. El-Athfal: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Anak, 1(01), 46–55.
Suhardoyo, S., Sudrajat, A., Bunga, R., & Roni, F. (2023). Penggunaan gadget sehat terhadap anak-anak pada Yayasan Hikmat Berkarya Mandiri. Karya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2), 29–35.
Takdir, H., & Fauziah, R. (2024). Analisis dampak media sosial terhadap etika remaja.
Ulfah, M., & Na’imah. (2020). Peran keluarga dalam konsep psikologi perkembangan anak usia dini. Aulad: Journal on Early Childhood, 3(1), 20–28.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 hour ago
5






































